Wednesday, 14 November 2018

Waria di Sukabumi Masih Dipandang Rendah

Jumat, 4 September 2015 — 6:58 WIB
Waria Peringati Hari HAM di Depan Istana

SUKABUMI (Pos Kota) – Masih banyak warga Kota Sukabumi hingga kini memandang rendah waria. Banyak masyarakat belum menganggap bahwa waria  mampu berkontribusi positif kepada masyarakat.

Hal itu dikatakan Ketua Kaum Sehati Sukabumi, Riri Supratman kepada Pos Kota, Kamis (3/9). Menurutnya, hingga saat ini keberadaan waria di Kota Sukabumi masih menjadi kaum yang termarjinalkan.

“Padahal waria juga berhak mendapatkan hak-haknya untuk hidup dan berdaya guna di lingkungan masyarakat. Namun karena stigma negatif tersebut, banyak waria yang kesulitan untuk berbaur dengan masyarakat lainnya,” kata dia.

Menurut Riri, keberadaan waria di kota Sukabumi tidak dapat dihindari. Mereka terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. “Dari data kami, sudah ada 35 waria di Kota Sukabumi ini. Jumlah itu yang terdata oleh kami, sementara yang belum tentu masih banyak,” ungkapnya.

Dia berharap, masyarakat dapat membuka hati dan menerima keberadaan waria. Dengan begitu, waria di Kota Sukabumi akan dapat berkarya dan berdedikasi kepada masyarakat. Maka itu, pihaknya menggelar beragam  kegiatan seperti baksos, olahraga, kesenian dan pengajian bertema “Saatnya Waria Berdaya dan Berkarya”.

“Semua kegiatan yang kami laksanakan sebagai ajang sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat akan potensi dan karya para waria khususnya di Kota Sukabumi. Sehingga tidak ada lagi waria yang mangkal. Kami berharap semua waria sudah memiliki kegiatan positif dan bekerja nyata, ” bebernya.

Pengelola Program KPA Kota Sukabumi, Yanti Rosdiana, mengatakan,KPA memiliki banyak program salah satu nya merangkul komunitas dipopulasi kunci. Wariadibina dan  dilibatkan dalam mengkampanyekan bahaya HIV di kota Sukabumi. “Kenapa mereka kami rangkul, karena untuk masuk kekomunitasnya itu kami mengalami kesulitan karena mereka sangat tertutup,” terangnya.

Kata Yanti, Stigma yang berkembang di masyarakat menjadi tantangan bagi pihak-pihak yang terkait langsung dengan HIV/AIDS yaitu mengatasi penularan serta penyebaran penyakit tersebut. “ Bagi Odha stigma dapat menghambat proses pengobatan dan akses ke layanan. Semakin tinggi tingkat stigma di masyarakat, semakin banyak pula Odha akan menutup diri. Hal ini akan berdampak pada pengobatan dan pendampingan, Odha akan cenderung menarik diri,” tandasnya. (sule)