Sunday, 18 November 2018

Tiada Musuh dan Teman Abadi

Sabtu, 5 September 2015 — 5:54 WIB

Oleh S Saiful Rahim

BENAR juga kata orang bahwa dalam politik itu tidak ada musuh dan teman abadi,” kata Dul Karung sambil masuk ke warung Mas Wargo setelah mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih dan nyaring.

“Apa selama ini kau anggap ucapan itu tidak benar?” tanggap orang duduk di dekat pintu masuk sambil bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Pasti kau bicara tentang sikap PAN yang tiga hari yang lalu loncat dari Koalisi Merah Putih ke Koalisi Indonesia Hebat,” terka orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang satu-satunya di warung itu.

“Aku jadi ingat istilah “kutu loncat” yang pertama kali digunakan Mahbub Djunaidi untuk Ridwan Saidi yang dianggap lompat dari satu partai ke partai lain demi bisa tetap duduk di DPR,” kata seseorang yang entah siapa.

“Kalau aku tidak punya dugaan seburuk itu. PAN itu kan kependekan dari “Partai Amanat Nasional” jadi segala yang dilakukan dan atau diperbuatnya berdasarkan amanat nasional. Bukan sekadar aksi “kutu loncat” dengan target cari peluang atau kedudukan,” kata orang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Dul, menurut kau nanti ada nggak anggota PAN yang berloncatan keluar partai tersebut karena tidak setuju terhadap kebijakan politik yang diambil para pemimpinnya? Dulu kan ketika PAN baru beberapa hari diumumkan berdiri ada pendirinya yang menyatakan mundur karena merasa tak sejalan dengan pendiri-pendiri yang lain,” tanya Mas Wargo kepada Dul Karung.

“Wah, saya ini bukan ahli duga menduga, Mas. Jadi saya nggak tahu tuh,” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong goreng dengan lahap.

“Jangankan bisa menduga bagaimana nasib PAN ke depan, menduga utang-utangnya sendiri pada Mas Wargo kapan bisa dibayar dia tidak mampu,” sela seseorang yang segera mengundang tawa.

“Yang jelas kata “pan” itu di Al-Quran artinya fana alias tidak kekal,” sambar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Ngaco kau! Itu bukan “pan” tapi “fan.” Dengan “f” bukan dengan “p,” bantah Dul Karung dengan suara keras.

“Lha di lidah orang Sunda mah “f” itu menjadi “p.” Sama dengan di lidah orang Arab “p” jadi “f,” bantah orang itu dengan Sundanya yang kental.

“Ah, pusinglah aku membicarakan PAN,” kata Dul Karung akhirnya. Lalu dia angkat kaki dan pergi dari warung dengan begitu saja.( syahsr@gmail.com )