Monday, 19 November 2018

Musim Panas yang Lain

Sabtu, 12 September 2015 — 5:43 WIB

Oleh S Saiful Rahim

MASYA Allah, panasnya bukan main,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo.

Tapi meskipun mulutnya ngoceh kepanasan, tetap saja mulut itu sigap menerima dengan lahap ketika tangannya menyodorkan singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Yang panas itu udaranya atau singkong gorengnya, Dul,” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk, seraya bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Semuanya. Hatiku pun ikut menjadi panas,” jawab Dul Karung seenaknya sambil meletakkan bokong ke tempat yang baru dilowongkan untuk dia duduk.

“Bersyukurlah Dul, kita berada di Jakarta. Jauh dari tempat hutan-hutan terbakar atau dibakar,” kata Mas Wargo sambil menyodorkan teh manis panas sebelum Dul Karung minta.

“Tetapi Jakarta pun sekarang dalam kondisi siaga kebakaran, Mas. Tiap hari ada saja bangunan yang terbakar,” bantah orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung sambil mengembuskan asap rokok yang diisapnya.

“Sekarang yang panas bukan cuma cuaca akibat musim  kemarau yang panjang dan hutan terbakar, tapi juga politik,” komentar orang yang duduk di ujung kanan bangka panjang yang semata wayang di warung itu.

“Maksudmu karena M enko Rizal Ramli kelewat rajin ngomong ya? Masih bersifat dan berperilaku sebagai seorang pengamat daripada seorang pelaksana ya?” tanggap orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Iya ya? Apa bukan urusan, atau silang pendapat  seperti yang selalu diungkit Pak Menko kita itu, sebaiknya dibicarakan dalam rapat atau sidang kabinet? Tidak dibawa ke tengah pasar?” kata seseorang entah yang mana dan siapa.

“Wah, nanti sidang kabinet bisa seperti sidang DPR dong?” celetuk Dul Karung sambil menyeruput teh manisnya.

“Maksudmu?” tanya Mas Wargo.

“Ada adegan gebrak meja atau banting bangku,” sela orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Wah, kalau sampai terjadi gebrak meja, banting bangku dan kepret kiri-kanan di sidang kabinet, warung kopi ini makin tertinggal kebebasan dan kedemokrasiaannya dong?  Kita kan mengertikan kebebasan dan demokrasi baru sebatas berapa besar peluang kita berteriak-teriak plus banting kursi dan menjungkir-balikkan meja. Atau tambah satu lagi, kebebasan kepret kiri, kepret kanan. Di warung ini kan tidak ada kebiasaan macam itu,” kata Dul Karung sambil ngeloyor begitu saja.  (syahsr@gmail.com )