Friday, 20 September 2019

Dugaan Korupsi Pengadaan 10 Crane

Bukan Lino, Tetapi Direktur Operasi dan Teknik Pelindo II Jadi Tersangka

Senin, 14 September 2015 — 19:33 WIB
Ketika Dirut Pelindo ll RJ Lino menghadang petugas Bareskrim yang akan masuk ke ruangam kerjanya. (dwi)

Ketika Dirut Pelindo ll RJ Lino menghadang petugas Bareskrim yang akan masuk ke ruangam kerjanya. (dwi)

JAKARTA (Pos Kota) – Setelah sempat menjadi teka-teki siapa tersangka kasus penggadaan 10 kendaraan Crane di Pelindo II, 2013, akhirnya terjawab sudah. Tersangkanya adalah Direktur Operasi dan Teknik Pelindo II, yakni Ferialdy Noerlan (FN) dan kawan-kawan (Dkk).

Hanya saja, dalam rilis yang dibagikan Puspenkum Kejaksaan Agung, tidak disebutkan nama-nama tersangka lain, tertulis Dkk saja, seperti terungkap dalam surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) Nomor: R/87/VIII/2015/Dit Tipideksus, tanggal 28 Agustus 2015, yang diterima, Senin (7/9) pekan lalu.

Sebelum ini, tim penyidik Mabes Polri tidak pernah menyebutkan nama tersangka. Yang belakangan, bahkan sempat didegradasi (diturunkan) dari tersangka menjadi calon tersangka.

Kapuspenkum Amir Yanto menyebutkan  tersangka FN Dkk dijerat dengan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“SPDP atas nama tersangka FN dan Dkk sudah diterima oleh Bidang Tindak Pidana Khusus, Kejaksaan Agung, Senin (7/9) pekan lalu,” kata Amir, di Kejagung, Senin (14/9)

Menurut Amir, Bidang Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) telah mengusulkan beberapa jaksa Tim Satgasus Penanganan, Penyelesaian Perkara (P3) Tindak Pidana Korupsi (TPK) untuk menjadi anggota tim jaksa peneliti (P16) , jika berkas perkara Pelindo II dilimpahkan (tahap pertama) ke Jampidsus.

RJ LINO

Kasus ini sempat mencuat ke permukaan, karena tindakan penyitaan dan penggeledahan tim penyidik Mabes Polri, yang dikomandoi langsung oleh Kabareskrim Komjen Pol. Budi Waseso (ketika itu) sempat masuk dan ‘acak-acak” ruang Dirut PT Pelindo II RJ. Lino.

Lino yang baru pulang dari rapat di tempat lain, nampak tidak terima dan kemudian di depan awak media Lino menelepon Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sopyan Djalil dan menyampaikan ‘uneg-uneg’-nya.

Beberapa waktu kemudian, muncul kegaduhan dan sttatement dari petinggi negara. Sampai kemudian Komjen Pol. Budi Waseso diganti oleh Komjen Pol. Anang Iskandar. Tempat Anang, Kepala Badan Nasional Narkotika diduduki oleh Budi Waseso. (ahi)