Monday, 19 November 2018

Saatnya Anggota Dewan Menggalang Simpati

Rabu, 16 September 2015 — 5:19 WIB

TERKABUL juga kehendak wakil rakyat menikmati kenaikan tunjangan kehormatan hingga komunikasi.

Total kenaikan yang diperoleh ketua badan/komisi sebesar Rp 8.508.000, wakil ketua badan/ komisi sebesar Rp 7.719.000 dan anggota DPR sebesar Rp 6.664.000 per bulan.

Kenaikan itu meliputi tunjangan kehormatan,tunjangan komunikasi intensif, tunjangan peningkatan fungsi pengawasan dan anggaran. Termasuk juga di dalamnya kenaikan bantun langganan listrik dan telepon.

Meski besaran kenaikan yang disetujui pemerintah hanya sekitar 30 persen dari yang diajukan dewan sebesar Rp 20 juta/bulan, tetap saja kenaikan ini menjadi sorotan publik.

Cukup ironis memang, anggota dewan menikmati kenaikan tunjangan, di tengah kian melemahnya daya beli masyarakat akibat didera kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Di saat sebagian masyarakat tidak lagi memperoleh pendapatan akibat terkena PHK, anggota dewan malah mendapat tambahan pendapatan. Selagi pemerintah sendiri mengalami kesulitan finansial, anggota dewan ikut andil menambah pengeluaran anggaran.

Bagi anggota dewan uang sebesar Rp 6,6 juta, boleh jadi, hanya dilirik sebelah mata, tetapi rakyat kecil  sangatlah berharga.

Publik akan bersimpati kalau saja uang kenaikan tersebut disumbangkan untuk rakyat miskin. Kalau semua anggota dewan (560), maka akan terkumpul Rp 3,69 miliar per bulan( Rp 6,6 juta x 560). Uang sebesar ini dapat menyantuni setidaknya 12.320 keluarga miskin, jika masing – masing menerima Rp 300.000. Seandainya setahun disumbangkan maka sebanyak 147.840 keluarga miskin dapat tertopang kehidupannya.

Dengan menyumbangkan uang kenaikan tersebut, tidak akan banyak mempengaruhi pendapatan. Sebab, tunjangan sebelum kenaikan sudah cukup memadai. Tunjangan kehormatan anggota dewan sebesar Rp 3.720.000, tunjangan komunikasi intensif Rp 14.140.000, tunjangan peningkatan pengawasan dan anggaran Rp 2.500.000 perbulan. Bantuan langganan listrik dan telepon Rp 5.500.000/ bulan.

Kini, dalam situasi yang serba sulit, menjadi momen paling tepat bagi anggota dewan untuk menggalang simpati dan menebar empati. Bukan mendatangkan kontroversi akibat kenaikan tunjangan ,yang pada gilirannya menumbuhkan antipati.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi akan memulai? (*).