Monday, 12 November 2018

Istri Sudah Terlalu Tua, Anak Tiri pun Ditelateni

Jumat, 18 September 2015 — 5:22 WIB
Dia Sept 1518

MAKANYA jangan menikahi perempuan jauh lebih tua. Akibatnya seperti Adnan, 50, dari Pengandaran, Ciamis (Jabar). Bini sudah tak mampu melayani urusan ranjang, anak tiri Icah, 17, selama berbulan-bulan dijadikan ajang pelampiasan. Begitu ketahuan istrinya, Milah, 60, urusan pun sampai ke polisi.

Brondong itu umumnya dari ketan atau jagung. Tapi di era gombalisasi ini, brondong justru mengandung makna lain, yakni suami yang jauh lebih muda dari istri. Istri 50, suami baru 40 tahun. Katanya, itu mah nggak masalah. Di awal-awal perkawinan memang iya, karena istri masih bisa mengimbangi gairah suami. Tapi coba 10 tahun kemudian. Suami masih doyan-doyannya, istri sudah males-malesan bahkan cenderung  hanya ngentutan!

Sekitar 10 tahun lalu usia Adnan baru 8 pelita. Dalam status duda ditinggal mati istri, dia mencoba mencari pengganti. Maunya yang cantik dan usia 5 atau 7 tahun di bawah usianya. Tapi sulitnya minta ampun, kayak mencari minyak tanah di pompa bensin.  Biar janda pun, tak ada yang mau menikah dengan Adnan. Soalnya dia bukan lelaki kaya, hanya buruh serabutan yang dapatnya uang tidak menentu. Tempo-tempo dapat, tempo-tempo tidak. Tapi lebih banyak tidaknya.

Untungnya warga Cigugur ini segera ketemu janda yang tidak materialis, yang memahami kondisi materil dan onderdil Adnan.  Maksudnya, Adnan memang tidak punya harta, tapi kan punya nafsu. Dan itu harus disalurkan di tempat yang layak dan terhormat. Sebagai wanita pemerhati HAM, Milah siap menjadi istri Adnan. “Tapi saya jauh lebih tua darimu lho.” Kata Milah.

Adnan yang sudah kepepet, akhirnya hanya bisa menjawab, “Nggak apa-apa mbak, wong saya juga pemerhati benda-benda purbakala.” Klop, kan? Jadilah keduanya pacaran sebentar dan kemudian naik pelaminan. Karena Adnan memang tidak punya rumah, akhirnya bergabung di rumah istrinya, di mana di situ juga ada anak perempuan bawaan istri, si Icah yang kala itu baru kelas II SD.

Sebagai pengantin baru, meski laki perempuan mantan janda dan duda, ranjang selalu gegap gempita bak pengantin remaja saja. Biar jauh lebih tua, Milah bisa mengimbangi permainan suaminya. Ibarat main bulutangkis,  smash-smash tajam menukik Adnan selalu dikembalikan dengan apik. Cuma saking tajamnya, kadang “bola” Adnan malah nyangkut di net!

Sejak awal Adnan memang sudah diberi gambaran pait, karena usia istri sudah 50 tahun dan tidak mens lagi, jangan berharap bisa punya anak. Tapi bagi mantan duda kapiran ini, nggak masalahlah. Yang penting kan selalu bisa “olahraga” kapan saja. Bukankah ungkapan lama mengatakan, mens sana in corpore sano: di badan yang sehat terletak jiwa yang kuat. Ya kuat makan juga tentunya.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa usia perkawinan mereka sudah dua pelita. Adnan yang dulu berusia 40, kini sudah 50 tahun. Begitu pula Milah, dulu usia 50 kini sudah 60 tahun. Badannya mulai melipat-lipat kayak kain diwiru. Paling celaka dalam urusan ranjang, dia sudah mulai non aktif. Ibarat mobil, sudah tak bisa dibawa nanjak ke Puncak. Jika dipaksakan malah olienya bocor ke mana-mana.

Sebaliknya Adnan, dalam usia 50 tahun masih gagah perkasa dalam segala lini. Karena istri tak bisa melayani, dia mulai mencari tokoh alternatip. Celakanya yang diincar justru Icah yang kini sudah remaja dara. Dalam sebuah kesempatan, di kala ibunya tidur nyenyak gadis ABG itu berhasil digaulinya. “Kalau nggak mau, kamu tidak saya biayai lagi sekolahmu.” Kata Adnan, padahal yang punya harta justru istrinya, karena Adnan hanya modal tit…..eh burung doang ding!

Begitulah, setiap istri tidur pules Adnan selalu begituan dengan anak tirinya. Tapi suatu ketika Milah memergoki aksi bejad suaminya. Tentu saja dia marah besar, anak kandung harapan bangsa kok diajak masuk sarung. Hari itu juga Adnan dilaporkan ke Polres Pangandaran dan ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui terus terang, nekad menggauli anak tiri karena istri sudah tak bisa menjalankan fungsinya.

Kijang buaya ketemu nafsu buaya! (Gunarso TS)