Wednesday, 19 September 2018

Harga Garam di Petani Indramayu Makin Payah

Sabtu, 19 September 2015 — 8:36 WIB
Petani garam seang panen namun mengeluh karena harganya anjlok

Petani garam seang panen namun mengeluh karena harganya anjlok

INDRAMAYU (Pos Kota) – Petani garam di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat saat ini menghadapi dua masalah besar yang sulit mereka hadapi yaitu pertama anjloknya harga jual garam di tingkat petani dan kedua makin sulitnya petani selaku produsen garam tradisional mendapatkan air asin sebagai bahan baku pembuatan garam,  akibat teriknya musim kemarau tahun 2015 ini.

Petani garam Karyaman, 49 dijumpai Pos Kota di Kecamatan Kandanghaur, Jum’at (18/9) mengemukakan,  nasib petani garam di Indramayu sekarang ini serba sulit.Setiap hari harus berebut air asin untuk memproduksi garam secara tradisional. Selain itu petani garam pun tengah dihimpit persoalan mendasar yaitu anjloknya harga jual garam.

“Setiap hari kami harus berebut air asin dengan sesama petani garam untuk mendapatkan bahan baku. Banyak petani garam yang terpaksa menyewa mesin pompa untuk menyedot air asin yang semakin langka,” katanya.

Ia mengakui,  musim kemarau yang cukup panjang pada Tahun 2015 ini pada satu sisi menguntungkan petani garam karena sangat menunjang hasil produksi garam namun pada sisi yang lain para petani kesulitan mendapatkan bahan baku air asin untuk memproduksi garam karena hampir semua saluran air asin kering kerontang disedot para petani garam. Dikatakan, garam hasil keringat para petani dihargai sangat murah oleh tengkulak garam yaitu sebesar Rp.250 per Kg. Padahal menurut Harga Pembelian Pemerintah (HPP),  harga jual garam Kualitas 1 di tingkat petani seharusnya mencapai Rp.750 per Kg.

Banyak petani garam di Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur mengeluhkan anjloknya harga garam produksi mereka. Ini sangat ironi karena  secara nasional kebutuhan garam untuk konsumsi dan industri  masih kekurangan. Sehingga  untuk memenuhi kebutuhan garan nasional terpaksa harus mengimpor garam dari luar negeri, khususnya dari India.

Ketua Ikatan Petani Garam Indonesia (IPGI) Kabupaten Indramayu Rasmita menyebutkan, saat permulaan masa produksi garam pada awal Juni 2015, harga jual garam petani Kualitas II masih lumayan tinggi mencapai Rp.400 per kg. Setelah itu harga garam terus menurun.

Sejak beberapa minggu lalu  harga garam makin anjlok hingga mencapai Rp. 250 per kg. Harga itu sangat memprihatinkan, penyebabnya  karena para petani garam tidak memiliki posisi tawar. Masalah penentuan harga diatur tengkulak garam.

Harga garam ini kata petani diprediksi bakal terus turun,  karena masa produksi garam masih cukup panjang.  Dengan demikian produksi garam akan semakin menumpuk dan pengaruhnya harga jual garam di tingkat petani akan semakin terpuruk.

Selain dipengaruhi melimpahnya produksi garam, kata petani anjloknya harga garam juga dipengaruhi oleh lemahnya posisi tawar para petani garam. Seharusnya petani garam yang punya barang atau garam memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap pembeli. Namun yang terjadi malah sebaliknya, pembeli yang menentukan harga garam. Sehingga harga jual garam produksi petani di Indramayu tidak mampu menyentuh HPP.

Berdasarkan HPP, harga garam Kualitas I mencapai Rp.750 per kg, garam Kualitas II Rp.550 per kg dan garam Kualitas III Rp. 450 per kg.  (taryani)