Sunday, 23 September 2018

RPTRA Solusi Atasi Kekerasan pada Anak

Senin, 21 September 2015 — 5:24 WIB

KEMATIAN bocah SD, Noor Anggra Ardiansyah,8, di Kebayoran Lama, Jaksel, Jumat (18/9), diduga akibat ditendang oleh teman sekolahnya semakin memperpanjang daftar angka kekerasan pada anak.

Masih segar dalam ingatan kita, tragedi Engeline, 8, yang tewas dibunuh di Sanur, Bali. Dalam kasus ini dua orang telah menjadi tersangka yakni ibu angkatnya, Margriet C Megawe dan mantan pembantu Margriet,  Agustinus.

Sebelumnya, pada Mei silam, seorang bocah usia 8 tahun di Cibubur, Jaktim, juga menerima kekerasan psikis, ditelantarkan oleh orangtuanya, tidak boleh masuk ke rumah selama 1 bulan.
Kita prihatin dengan masih terus terjadinya kasus-kasus kekerasan menimpa anak-anak. Kita harus sepakat bahwa anak-anak harus dillindungi dan dijauhkan dari kekerasan, apapun itu bentuknya, baik sebagai obyek maupun subyek.

Anak adalah aset keluarga, masyarakat dan juga bangsa ini. Melindungi anak sama saja dengan melindungi aset negeri ini. Untuk itu, tak ada kata lain, gerakan menyelamatkan anak Indonesia dari kekerasan, harus lebih digalakkan.

Upaya Pemprov DKI membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) patut diacungi jempol. Pembangunan taman ramah anak ini merupakan langkah solutif mengatasi berbagai masalah sosial, termasuk di dalamnya kekerasan pada anak.

Kita mengetahui bahwa salah satu penyebab munculnya kekerasan pada anak atau yang dilakukan anak, adalah pengaruh dari internet, tayangan TV, atau game online.

Anak banyak menghabiskan waktu senggang dengan bermain internet atau  game online, tanpa pengawasan dari orangtua, lantaran minimnya sarana bermain, olarhaga, atau sosialisasi di lingkungan rumahnya.

Dengan adanya RPTRA, kita oprimistis, angka kekerasan pada anak atau yang dilakukan anak, akan menurun. Pasalnya, komunikasi dan energi mereka bisa tersalurkan dengan baik serta terarah.

Kita harapkan saja pembangunan RPTRA ini bisa terus dilakukan dan diperbanyak di permukiman-permukiman warga. ^^