Sunday, 18 November 2018

Ganasnya si Kakek Duda Cucu Tiri Pun Ditelateni

Kamis, 8 Oktober 2015 — 5:45 WIB

USIANYA baru 50 tahun, tapi karena anak lelakinya kawin dengan janda beranak dua, otomatis Karjono disebut simbah. Tapi jadi simbah Karjono tak bisa jadi panutan. Liat cucu tirinya, Ida, 12, tampak cantik meski masih gadis ingusan, berulang kali dinodai. Begitu diadukan pada ayah kandungnya, Karjono kabur!

Perceraian suami istri selalu  menimbulkan korban terhadap anak-anaknya. Tak hanya terlantar secara ekonomi, tapi juga kasih sayang. Maka kalau bisa, meski sudah tidak cocok dengan pasangan, jika sudah ada anak sebagai hasil kerjasama nirlaba, seyogyanya tak usahlah bercerai. Perbaiki dan bangun kembali rumahtangga yang nyaris hancur itu, ketimbang anak-anak akan menjadi korban yang berkelanjutan.

Ny. Yunisah, 40, tak pernah berfikir sejauh itu. Ketika cintanya pada suami sudah habis dan berubah jadi kebencian, rumahtangganya pun dibubarkan alias bercerai. Yunisah tak peduli dengan nasib anak-anaknya nanti. Karena dia bekerja, dengan congkakknya bilang, “Aku juga bisa ngempani dan mendidik anak-anakku.” Katanya.

Perceraian itu terjadi sekitar 5 tahun lalu, ketika kedua putrinya baru berusia 7 dan 5 tahun, sementara dia sendiri baru berusia 35 tahun. Tapi ternyata mencari suami pengganti dengan beban dua anak, tidaklah mudah. Banyak lelaki yang mundur teratur begitu tahu calon istrinya ada dua anak. “Gua yang kerja, masak dipakai ngempani anak orang,” begitu kata para lelaki penganut paham materialistis.

Kemudian beberapa bulan lalu ada perjaka penderita “trakhom” yang buta akan kondisi Yunisah sebenarnya. Dia adalah Mulyadi, 30, yang selama ini belum juga ketemu jodoh. Dia hanya tertarik pada kecantikan janda STNK itu. Soal anak-anak bawaan, toh calon istri takkan membebani APBN keluarga, karena mereka juga dapat tunjangan dari bekas suami. Karenanya, meski calon istri jauh lebih tua darinya, dia mau saja menjadi bapak tiri anak-anak bawaan Yunisah.

Terus terang, Mulyadi ini lelaki modal  burung doang! Maka begitu menikah dia malah bergabung pada keluarga istrinya di Ploso Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dia benar-benar hanya jadi pejantan doang, kasarnya: hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis Yunisah yang masih menyala-nyala dalam usia kepala 4.

Beberapa minggu kemudian ayah kandung Mulyadi, mbah Karjono bergabung tinggal di rumah Yunisah. Ternyata dia lelaki duda. Yang sungguh tak diduga oleh Ny. Yunisah selaku menantu, ayah suaminya itu ternyata duda yang ganas. Kalau ganasnya kanker, dikemo 10-15 kali langsung selesai, maksudnya: bisa sembuh, bisa pula mati. Tapi ganasnya Mbah Karjono ini lain, karena dia ternyata justru bernafsu lihat cucu-cucu tirinya, terutama si Ida.

Tak peduli kondisi sosial diri dan anaknya, malam-malam dia mencoba “menelateni” si Ida. Ternyata berhasil tanpa gejolak. Lain hari lagi diulang kembali, dan tetap tanpa gejolak. Setelah berlangsung 5-6 kali, eh…..pas Mbah Karjono menggumuli Ida, ketahuan adiknya yang kini berusia 10 tahun. Nah, ayahnya yang tinggal di Bali pun dilapori dan segera meluncur ke Malang untuk klarifikasi. Ternyata Mbah Karjono mengelak, bahkan kemudian kabur. Terpaksa bekas suami Yunisah ini melaporkan si kakek genit ke Polres Malang.

Kakek tak tahu diuntung, maunya asal masuk sarung! (JPNN/Gunarso TS)