Monday, 19 November 2018

Menilai Gagal atau Sukses

Sabtu, 10 Oktober 2015 — 5:59 WIB

Oleh S. Saiful Rahim

“NAH, itu si Dul datang, mari kita tanya pendapatnya,” kata seseorang yang ada di warung kopi Mas Wargo ketika mendengar ucapan assalamu alaykum yang fasih.

“Jawab dulu salamku, baru ajak aku ngomong yang lain. Kata ustadz Marzuki menjawab salam itu wajib, walaupun mengucakapkan salam hukumnya sunah,” kata Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Wa alaykum salam,” kata orang itu dengan nada agak terpaksa. “Dan sekarang jawab pertanyaanku. Menurutkau Jokowi dan JK gagal atau sukses jadi presiden dan wakilnya?” sambung orang itu.

“Jokowi dan JK jelas sukses menjadi presiden dan wakil presiden. Itu soal “menjadi” presiden ya? Tetapi kalau “sebagai” presiden dan sebagai wakil presiden, jawabannya lain lagi,” jawab Dul Karung membuat sebagian besar hadirin yang ada di warung menoleh ke arahnya dengan pandangan mengandung tanya.

“Maksudmu?” tanya beberapa orang hampir berbareng.

“Beliau kan sama-sama terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Itu artinya beliau telah sukses. Tetapi sebagai presiden dan wakil presiden, penilaiannya lain lagi dong?” jelas Dul Karung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Kalau sekarang aku menilai Mas Wargo dengan polamu itu, berarti Mas Wargo sukses menjadi pedagang kopi. Karena cita-citanya datang ke Jakarta ingin dagang kopi. Tapi sebagai, bukan sekadar menjadi, pedagang kopi dia tidak bisa disebut sukses, karena ada pelanggan yang berutang melulu, seperti kamu?” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, mengundang tawa semua hadirin. Kecuali Dul Karung yang merasa menjadi korban olok-olok.

“Alah sudahlah. Jangan bercanda. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana penilaian Dul Karung tentang Pemerintahan Jokowi ini?” kata orang yang pertama berbicara ketika Dul Karung baru masuk ke warung.

“Apa ada yang yakin Dul Karung mampu berpendapat mengenai suatu pemerintahan?” kata orang yang mengolok-olok itu masih juga berolok-olok.

“Setidak-tidaknya dia bisa menghimpun banyak kesan dan pendapat banyak orang pandai. Dia kan sering mengaku banyak orang-orang pandai yang dikenalnya,” balas orang menjadi lawannya bicara.

“Makin banyak aku mendengar pendapat orang pandai, aku malah makin bingung. Apalagi bila mereka sudah menjadi politisi, makin susah dicari ekor omongannya. Mending kalian pikirkan sebentar lagi musim hujan tiba, Jakarta masih atau malah makin kebanjiran,” kata Dul Karung seenaknya sambil ngeloyor meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )