Wednesday, 24 July 2019

Hotel Salak Akui Terganggu Dengan Gugatan Warga

Senin, 26 Oktober 2015 — 20:08 WIB

BOGOR (Pos Kota) – Direktur Hotel Salak, Agus Prihanto mengaku, pihaknya merasa terganggu dengan adanya gugatan warga ke PTUN Bandung. Gugatan warga ini terkait keberatan proyek Tower Salak Hotel yang belum memenuhi kajian analisa dampak lingkungan (Amdal).

Agus kepada wartawan Senin (26/10) siang di lantai 2 ruang Kinanti Hotel Salak mengaku, semua persyaratan terkait proses IMB, sudah dilalui pihaknya.

“Pembangunan Tower Salak Hotel itu menelan investasi sebesar Rp300 miliar. Jadi kami betul-betul lalui sesuai prosedur yang ada,” kata Agus.

Ia menambahkan, walau tergugat 1 adalah Pemkot Bogor dan Salak Hotel sebagai pihak intervensi, namun proses hukum yang sudah memasuki persidangan ke enam ini, membuat pihaknya kurang nyaman.

“Bahwa atas gugatan ini kami menderita kerugian material iya. Karena ada keterlambatan pengoperasian,”paparnya.

Ia membenarkan, bahwa tuntutan warga dalam proses hukum yang sedang berjalan ini, adalah permintaanagar IMB dicabut dan pembangunan hotel dihentikan.

Agus juga mengaku, pihaknya belum memikirkan langkah lanjutan, seandainya pada proses hukum di PTUN Bandung ini pihak Pemkot dikalahkan.

“Kami terus berkoordinasi dengan Pemkot. Yang jelas sebagai pihak yang digugat, kami juga tidak nyaman,”ujarnya sambil menambahkan, pembangunan proyek Tower Salak Hotel kini sudah 90 persen.

                Tidak Melalui Aturan Resmi

Di tempat terpisah, Argon, salah satu warga terdampak yang ikut menggugat pembangunan hotel tertinggi di Kota Bogor ini menegaskan, persidangan kini memasuki pemeriksaan keterangan saksi.

Ia mengaku, pembangunan tower Salak Hotel di bilangan Jalan Jalak Harupat Kota Bogor tidak melalui aturan resmi yang berlaku.

Juru bicara warga, Argon menegaskan, tiga majelis hakim yang memimpin sidang dinilainya sangat obyektif. Ketiga hakim itu perempuan semua.

“Ada hakim Nelfi Kristin, hakim Retno dan hakim Indah. Dengan berjalannya sidang, kami warga sangat optimis menang,” kata Argon.

Rasa optimismenya Argon dan warga semakin kuat, ketika hakim persidangan meninjau lokasi, guna membuktikan argumen warga.

Dalam peninjauan itu, terdapat beberapa temuan yakni, jarak batas bangunan hotel 20 lantai itu dengan rumah warga hanya berjarak 1,5 meter.

“Kemudian ditemukan ijin lingkungan yang dimanipulasi, dimana yang menanda tangan izin itu bukan orang yang tinggal di lokasi terdampak,” papar Argon.

Dalam penelusuran, ternyata orang yang mengontrak dirumah warga yang memberi ijin, adalah orang yang masih bertalian dengan Hotel Salak. (yopi/win)