Tuesday, 20 November 2018

Industri Fesyen Harus Ramah Lingkungan

Selasa, 27 Oktober 2015 — 0:22 WIB
Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Dirjen IKM Euis Saedah (kanan) berfoto bersama dengan  Desty Setya Novanto (ketiga kanan) dan Designer Merdi Sihombing (ketiga kiri) pada acara Fashion Show “Beginning Ethical Fashion” dalam rangkaian Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 di Jakarta, 26 Oktober 2015

Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Dirjen IKM Euis Saedah (kanan) berfoto bersama dengan Desty Setya Novanto (ketiga kanan) dan Designer Merdi Sihombing (ketiga kiri) pada acara Fashion Show “Beginning Ethical Fashion” dalam rangkaian Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 di Jakarta, 26 Oktober 2015

JAKARTA (Pos Kota) –  Kementerian Perindustrian dorong pengembangan  industri fesyen berkonsep ramah lingkungan dalam aktivitas produksinya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin juga mengatakan  pendekatan ini dapat digandengkan dengan fesyen berkelanjutan (green fashion) dalam pelaksanaannya.

“Fesyen yang ramah lingkungan ini dapat menjadi keunggulan Indonesia. Rekan-rekan desainer dan pengusaha tentu sudah akrab dengan pewarna alami dan proses pembuatan kain yang berbahan baku alam,” kata Saleh saat meresmikan pembukaan Fashion Show “Beginning Ethical Fashion” pada Jakarta Fashion Week 2016, di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (26/10).

Produk fesyen yang memperhatikan dampak lingkungan, sambungnya, lazimnya dibuat dengan ketelitian sejak pembuatan bahan baku, pemilihan motif, dan pewarnaan. Secara sosial, hubungan desainer dengan perajin juga terjalin lebih personal dan bernuansa kekeluargaan.

“Green fashion ini sebenarnya sudah Indonesia banget. Kita sudah melakukan dan tinggal kita konsisten serta mengemasnya untuk memperkuat brand fesyen Indonesia ketika dipasarkan ke pasar domestik dan global,” lanjutnya.

Nilai ekonominya pun lebih tinggi karena memiliki unsur eksklusif. Para pembeli yang sadar akan lebih menghargai produk ini karena merasa memiliki dan ikut mendukung proses pelestarian budaya Indonesia.

“Ini menjadi peluang emas bagi para desainer, IKM bidang fesyen maupun pengusaha lainnya untuk menggali budaya yang mulai hilang dan terancam punah dan menghasilkan produk yang menarik,” ujar Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin, Euis Saedah.

Pemerintah juga mengapresiasi para desainer yang bekerja sama dan memberdayakan IKM produsen bahan baku tekstil dan asesoris. Menurut Euis, kemitraan ini efektif melestarikan budaya, menjaga pola produksi ramah lingkungan dan sekaligus menyejahterakan pelaku industri kecil.

Selain menggelar program Penghargaan Industri Hijau, pihaknya juga menyelenggarakan beberapa aktivitas seperti Swarna Fest di Alor, Lomba Desain Batik Tomini yang termasuk dalam rangkaian Sail Tomini 2015 dan ajang fashion show yang mengangkat serat dan pewarna alami dari kekayaan alam Indonesia.

Sementara itu, keberadaan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta dan pendirian Bali Creative Industry Center (BCIC) ditujukan untuk menggerakkan potensi industri fesyen di seluruh Indonesia.(Tri)