Friday, 16 November 2018

Sayang pada Istri Muda tapi Tidak Sayang Nyawa

Kamis, 29 Oktober 2015 — 5:16 WIB

ANEH sekali jalan pikiran Salamun, 38,  dari Sungailiat (Bangka) ini. Begitu sayangnya pada istri muda, dia sendiri jadi tidak sayang pada nyawanya. Bayangkan, hanya marah karena ditinggal dolan istri berlama-lama, dia memilih mati gantung diri. Padahal jika sudah mati, buat apa punya istri muda?

Meski Islam membolehkan lelaki punya bini sampai empat, sesungguhnya suami harus kuat dalam segala hal. Ya kuat secara materil, moril maupun onderdil. Jika hanya kuat di onderdil, dijamin program poligaminya tak berjalan mulus. Punya banyak istri malah bakar cakar-cakaran terus. Kecuali memang punya tekad, biarlah setiap hari saling cakar, tapi yang penting selalu terjamin urusan dzakar (kemaluan).

Rupanya Salamun dari Sungailiat Bangka Belitung ini ketika poligami hanya mengandalkan kekuatan satu hal: onderdi semata. Soal materil dan moril, sama sekali tak memenuhi syarat. Bagaimana tidak? Tinggalnya saja di rumah kontrakan, tapi kok macem-macem punya bini muda segala.

Tapi Diah, 25, selaku istri muda juga tidak kalah begonya. Diajak tinggal di rumah kontrakan dan nikahnya pun secara siri, kok mau-maunya itu lho. Padahal dengan kawin siri, posisinya lemah sekali. Dia tak bisa menuntut hak waris, manakala suami wasalam sewaktu-waktu, dan tak kalah penting, anak hasil kerjasama nir laba itu tak bakal punya akte kelahiran.

Begitulah yang terjadi. Ketika menikah siri dengan Salamun, kebahagiaan itu hanya sekejap. Setelah itu, karena tinggal di rumah kontrakan yang sumpek, dia jadi jenuh di rumah. Maunya jalan-jalan melulu, sampai suaminya tak diurus. Tapi ketika ditegur suami, dia tak peduli. Artinya habis dimarahi kembali ke kebiasaan lama.

Yang terjadi beberapa hari lalu juga demikian. Pas Salamun pulang kerja, istri tak ada di rumah. Begitu pulang sudah menjelang magrib. Sampai-sampai Salamun mengancam, “Kalau kamu nggak nurut, saya bunuh diri nih!” Tapi rupanya Diah tak mempan gertak, justru jawabnya seperti anak Jakarta: emangnya gua pikirin?

Habis itu terus ngeloyor pergi. Meski suami sudah pegang tali, dianggapnya hanya psywaar semata. Padahal sejam kemudian ketika dia kembali di rumah, didapati Salamun sudah tergantung di dapur dalam rangka bunuh diri. Histerislah Diah, dan ketika tubuh suami diturunkan, Salamun memang sudah wasalam untuk selamanya.

Nyawa buat mainan, padahal tak bisa dibeli lewat online sekalipun. (BNN/Gunarso TS)