Tuesday, 17 September 2019

Menristek Dikti: Daya Saing Indonesia Merosot

Jumat, 30 Oktober 2015 — 14:37 WIB
Foto-Menristek Dikti M Nasir dalam evaluasi kerja setahun kepemerintahan Jokowi JK dalam bidang riset dan dikti. (Inung)

Foto-Menristek Dikti M Nasir dalam evaluasi kerja setahun kepemerintahan Jokowi JK dalam bidang riset dan dikti. (Inung)

JAKARTA (Pos Kota)- Perguruan Tinggi dan keunggulan riset menjadi komponen penting untuk menaikkan daya saing bangsa. Oleh karena itu Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) terus berupaya melakukan berbagai pembenahan dan terobosan disegala lini.

“Intinya kita ingin mengoptimalkan peranan perguruan tinggi termasuk kegiatan risetnya dalam proses pembangunan bangsa,” kata Menteri Ristek dan Dikti Mohamad Nasir pada refleksi setahun kepemimpinan Jokowi-JK dalam bidang pembangunan Ristek Dikti kemarin.

Diakui Nasir, daya saing Indonesia dikancah internasional merosot dari 34 menjadi 37. Dan untuk meningkatkan kembali perlu kerja keras utamanya dalam hal pembangunan SDM.

Beberapa terobosan yang dilakukan oleh Kemenristek dan dikti antara lain adalah meningkatkan mutu kualitas perguruan tinggi, meningkatkan kualitas SDM, meningkatkan pengembangan riset, meningkatan kapasitas riset dan sebagainya. Dalam setahun ini diakui Nasir berbagai target capaian sudah terlampaui dengan baik.

Misalnya dalam hal akreditasi perguruan tinggi dimana PT dengan akreditasi A ditargetkan 29 hingga akhir 2015 dan pada oktober ini sudah mencapai 26 PT. Lalu mendorong PTN masuk dalam 500 universitas top dunia dimana saat ini UI dan ITB sudah mampu mewujudkannya.

Disamping itu, dalam hal riset sudah ada 29 hasil riset yang siap dikomersilkan oleh dunia usaha.

Nasir mengatakan berbagai tantangan memang dijumpai di lapangan seperti turunnya nilai anggaran Kemenristek Dikti. Penurunan nilai anggaran tidak hanya terjadi di Kemenristek Dikti, tetapi juga kementerian/lembaga lain akibat tidak tercapainya pemasukan negara.

“Pemangkasan anggaran tersebut harus disikapi dengan bijak. Dan kami tetap mempriorotaskan hal-hal terkait beasiswa, bidik misi dan bantuan operasional pendidikan agar proses pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.

Selain memaparkan capaian kerja, Nasir juga menyampaikan harapannya. Bahwa membangun riset itu harus didukung oleh kalangan swasta. Sebab dengan keterbatasan anggaran negara tentu akan sangat sulit mengembangkan riset-riset unggulan dalam jumlah yang banyak. Mengingat anggaran riset di Indonesia masih terlalu kecil hanya 0.009 persen dari nilai GDP.

“Kita gandeng swasta untuk ambil bagian dalam kegiatan riset,” pungkasnya.

(inung/sir)