Sunday, 15 September 2019

Survei I2: Kabut Asap Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Jumat, 30 Oktober 2015 — 20:24 WIB
Kabut Asap di Riau - RRI

JAKARTA — Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia menjadi isu paling kuat yang disorot media lokal, nasional dan internasional di antara isu besar lainnya. Hasil survei menunjukkan kabut asap akibat kebakaran hutan itu merupakan kejahatan manusia.

Indonesia Indicator (I2), sebuah perusahaan di bidang intelijen media, analisis data, dan kajian strategis melakukan survei tentang pemberitaan tentang kabut asap dalam kurun waktu 1 Januari hingga 27 Oktober 2015 mencapai 40.607 berita. Data tersebut berasal dari pemberitaan 617 media online baik lokal, nasional maupun internasional.

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), di Jakarta, Jumat (30/10) saat mengumumkan hasil surveiinya, Rustika Herlambang mengatakan, pemberitaan mengenai kabut asap akibat tindakan sengaja ini mendapat ruang ekspose sebanyak 6.920 berita atau 18 persen dari seluruh pemberitaan. Hal ini diperkuat dengan keterangan BMKG bahwa hotspot ini murni terjadi karena purposefully inflicted, atau man-made (ulah manusia).

Selain itu, kata dia, gejala kabut asap terjadi dengan pola yang relatif tetap. Data media dalam empat tahun terakhir menunjukkan bahwa titik panas pada dasarnya sudah dapat dideteksi jauh-jauh hari, atau 6 bulan sebelum puncaknya pada September hingga Oktober.

Pola asap, tegas Rustika, tidak hanya dari aspek waktu, melainkan dari aspek wilayah. Ia mengungkapkan, wilayah didih tertinggi ada di Sumatera, terutama Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Selain itu wilayah Kalimatan dan Jawa Tengah.

Tahun 2015, lanjut dia, pembakaran hutan dan bencana asap makin menyebar ke Sulawesi, Maluku hingga ke Papua. Ketiga wilayah terakhir ini, terutama  Papua, menjadi area panas baru di masa datang yang kemungkinan dampaknya tidak kalah serius.

“Titik api sudah terdeteksi sejak Januari. Seruan antisipasi dan pencegahan sudah diserukan sejak awal. Tapi mengapa kobaran api dan pengabnya asap makin menjadi?,” ungkap Rustika. Perluasan hotspot yang luar biasa dan masif di berbagai wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak pernah terpapar, kata Rustika, perlu diselidiki, apakah hal ini terjadi karena dampak  fenomena El Nino ataukah sebuah kesengajaan?

Indonesia Indicator mencatat volume berita bencana asap tahun ini melonjak sangat sekitar 400 persen dibandingkan tahun sebelumnya di bulan yang sama. Pada 2012, pemberitaan kabut asap hanya 669. Pada 2013 melonjak menjadi 1.256 berita dan 2014 menjadi 8.992 berita. Puncaknya, pada 2015 pemberitaan tentang kabut asap meroket hingga 39.648 berita. (Johara/d)