Tuesday, 17 September 2019

Mencari Bibit Unggul Malah Ditangkap Polisi

Selasa, 3 November 2015 — 5:24 WIB

KURANG ajar betul si Usmar, 29, dari Batubara, Sumut ini. Istri diperlakukan seperti sapi saja. Lama tak punya anak, dicarikan “bibit unggul” dari teman sendiri untuk menggauli. Polan, 20, sih mau-mau saja, tapi Ida, 24, istri Usmar yang keberatan. Maka esuk paginya, Usmar dan teman selaku pejantan dilaporkan ke polisi.

Setiap pasangan suami istri selalu mendambakan kelahiran anak. Jika istri atau suami mandul, dilakukan berbagai usaha agar segera punya momongan. Ada yang konsultasi ke ahli kandungan, atau berobat tradisional menurut keyakinan atau pengalaman yang diserap dari lingkungannya. Bahkan paling tidak berbudaya dan bermoral, ada juga yang merelakan istrinya untuk digauli lelaki lain, yang penting bisa punya keturunan.

Lelaki yang membabi buta menghalalkan segala cara itu satu di antaranya adalah Usmar, warga Sei Suka, Kabupaten Batubara. Dia sudah hampir satu pelita menikahi Ida. Tapi hingga kini kerjasama nirlaba itu tak membuahkan hasil. Istilah kata: hanya keringetan doang!

Demi kelanjutan sejarah, buruh pemetik sawit itu berusaha dengan caranya sendiri. Bukan mendatangi ahli kandungan atau pengobatan alternatif, tapi malah mengajak temannya, Polan, untuk menggauli istrinya. “Aku rela dunia akhirat, yang penting nantinya Ida punya anak.” Kata Usmar pada Polan temannya.

Polan selama ini memang banyak berutang budi pada Usmar. Setiap kesulitan keuangan, dia sering meminjami. Maka ketika kali ini gantian Usmar minta tolong terhadapnya, tak bisa menolak. Lebih-lebih bodi dan penampilan Ida memang menjanjikan. Tak disuruh saja sebetulnya kepengin, kok malah disponsori dan bebas dari bea. Tentu saja semrintil.

Celakanya, kesepakatan gendeng ini hanya diputuskan sepihak, tanpa mengajak berembug Ida selaku  obyek utamanya. Tahu-tahu malam-malam Ida diajak suami ke kebun sawit, di mana Polan telah menunggu. Di sinilah Usmar baru mendeklarasikan tekadnya. Sebetulnya Ida berkeberatan, tapi karena Polan langsung menyerbu dan suami justru membantu ikut melucuti pakaianya, dia tak bisa menolak.

Aksi mesum itu hanya berlangsung tak lebih dari 10 menit, Usmar menyaksikan dari tempat jauh. Begitu selesai Ida kembali diserahkan pada suaminya. Diberi uang berapa sebagai pejantan, tak ada informasi. Yang jelas, sapi saja di Kebumen (Jateng) sekali mengawinkan sapi, pemilik  harus bayar Rp 50.000,- kepada pemilik sapi pejantan.

Usmar hanya berpikir, beberapa bulan kemudian pasti ada hasilnya. Ternyata, esuk paginya malah dia didatangi polisi. Kemudian bersama Polan sahabatnya mereka digelandang ke Polres Batubara. Ternyata ini semua berkat pengaduan Ida, yang tidak terima dilecehkan kehormatannya oleh suami. “Saya dianggap sapi saja, dicarikan pejantan lelaki lain. Saya sungguh malu dan terhina.” Kata Ida di depan polisi.

Sedangkan Usmar, kayaknya tak punya kemaluan, eh rasa malu. (JPNN/Gunarso TS)