Friday, 20 July 2018

Reshuffle Jilid II, Jokowi Harus Keluar Dari Tekanan Politik

Kamis, 5 November 2015 — 18:18 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Reshuffle Kabinet sudah dihembuskan oleh Istana. Diharapkan, reshuffle kali ini menjadi yang terakhir dan bisa membuat pemerintahan kuat serta solid. Jokowi harus berani keluar dari tekanan politik mana pun. Kalau sudah ada reshuffle tapi belum bisa memperbaiki keadaan, maka yang salah bukan menterinya.

“Jadi, Presiden Jokowi harus berani keluar dari tekanan parpol. Apalagi koordinasi di internal kabinet belum berjalan bahkan terjadi kegaduhan politik. Seperti Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli dengan Wapres Jusuf Kalla, PDIP dengan Meneg BUMN Rini Soemarno, dan lain-lain,” kata Wakil Ketua Komisi II DPR Ahmad Reza Patria, dalam diskusi di DPR, Kamis (5/11/2015).

Ia berharap bila ada reshuffle lagi, cukup sudah kali ini, tidak usah ada reshuffle berikutnya. Alasannya, apa yang diharapkan rakyat adalah pemerintah segera bekerja dan bisa memperbaiki kondisi, terutama bidang ekonomi.

Menurut dia, reshuffle memang kebutuhan yang tahu dan merasakan adalah Presiden Jokowi. Maka itu, nanti kalau menentukan menteri-menteri harus formasi yang dibutuhkan Jokowi, meski memang harus berkonsultasi dengan parpol pendukung pemerintahan. Dengan pilihannya itu, maka Presiden akan menjadi tanggung jawabnya kalau terjadi perkembangan berikutnya.

“Kalau sudah mengganti menterinya, tetapi ternyata masih belum baik juga, maka ini yang salah bukan para menterinya, tapi pemimpinnya,” kata Reza.

Ia mengingatkan beberapa lembaga survei sudah mengeluarkan penelitiannya. Sudah diberikan peringkat, kinerja menteri yang baik dan tidak. “Kalau yang saya tahu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti termasuk yang terbaik. Dia pendidikannya yang terendah, hanya lulus SMP, tapi kinerjanya terbaik. Ini perlu menjadi catatan juga,” katanya.

Reza menegaskan, untuk satu tahun pemerintahan yang sudah berjalan, cukup untuk pijakan bagi Jokowi dalam melanjutkan empat tahun ke depan. Tapi, jangan lagi, pada tahun-tahun berikutnya masih berkutat seperti saat ini. Jokowi harus menggunakan empat tehun ke depanuntuk mewujudkan janji-janjinya.

“Kalau masih disia-siakan, maka rakyat tentunya dudah tidak bisa memakluminya lagi, seperti satu tahun terakhir ini. Sebab, kondisi rakyat sudah menyedihkan, tidak mungkin dibiarkan terus,” katanya. (winoto)