Monday, 19 August 2019

Pengusaha Jepang Kumpul Bicarakan Iklim Usaha di Indonesia

Jumat, 6 November 2015 — 15:14 WIB
Pengusaha Jepang sedang paparkan inveatasi ke Indonesia.(lina)

Pengusaha Jepang sedang paparkan inveatasi ke Indonesia.(lina)

CIKARANG (Pos Kota) – Ketenagakerjaan menjadi salah satu isu aktual bagi pengusaha dan investor asal Jepang di Indonesia saat ini karena terkait pembatasan penggunaan tenaga kerja asing.

Selain itu, lambatnya proses pembebasan lahan dan larangan impor bahan baku tertentu, juga menjadi ganjalan bagi pengusaha serta investor asal Jepang.

PT Jababeka Tbk mengumpulkan 150 pengusaha asal Jepang melalui Japanese Gathering. Dalam pertemuan yang membahas tren otomotif, consumer good hingga isu upah minimum 2016 menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan pengusaha.

Seperti Direktur PT Jababeka Tbk, Sutedja Sidarta Darmono, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Masahiro Nonami, Presiden Direktur PT Aeon Indonesia, Toyofumi Kashi, General Manager PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG, Yasuharu Nagano dan Departemen Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi.

“Jepang adalah salah satu negara yang rutin berinvestasi dalam jumlah besar di Indonesia, setelah menjadi negara dengan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI, Red) terbesar pada tahun 2013,” ujar Darmono dalam pertemuan itu Jumat (6/11).

Jepang Terbesar Kedua

Selain itu, lanjutnya,   Jepang juga menempati peringkat kedua FDI terbesar di Indonesia pada tahun 2014. Sedangkan pada semester pertama 2015, realisasi FDI perusahaan Jepang di Indonesia itu menempati peringkat ketiga,” sambungnya.

Dikatakannya, berdasarkan data dari badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nasional, untuk periode Januari-September 2015, realisasi investasi Jepang menduduki peringkat ketiga teratas dengan nilai investasi mencapai US$ 2,49 miliar. Dengan jumlah proyek 1.315.

“Di kawasan industri Jababeka Cikarang sendiri terdapat lebih dari 100 perusahaan asal Jepang. United Tracors, merupakan salah satu tenant awal di kawasan Jababeka, kemudian diikuti perusahaan besar lainnya seperti Kao dan Nissin,” terangnya.

Maka, tambah dia, pihaknya berinisiatif mendorong diskusi konstruktif antara pengusaha Indonesia, pengusaha Jepang dan pemerintah agar tercapai solusi terbaik.

“Sehubungan dengan industri otomotif, pemerintah meminta Jepang untuk meningkatkan investasi pada industri otomotif dan khususnya industri komponen. Karena ekspansi bisnis ini bisa menggandeng perusahaan lokal,” pungkasnya.(lina)