Tuesday, 20 November 2018

Produksi Garam Menumpuk, Harga Kian Terpuruk

Jumat, 6 November 2015 — 0:14 WIB
Petani bingung karena harga garam yang kian terpuruk (taryani)

Petani bingung karena harga garam yang kian terpuruk (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) – Harga garam yang berlaku di tingkat petani di daerah produsen garam terbesar di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat yaitu di Kecamatan Kandanghaur dan Losarang makin tersungkur,  membuat pendapatan ribuan petani garam semakin menurun.

“Pada awal ktober 2015 posisi harga jual garam ke tangan tengkulak masih  Rp250 per Kg. Tetapi memasuki minggu pertama pada bulan November 2015, harga jual garam  hasil produksi masyarakat itu turun tajam menjadi hanya Rp150 per Kg,” ujar Sumadi, 42 salah seorang petani garam di Kecamatan Kandanghaur.

Diakui, pada musim kemarau Tahun 2015 yang sangat terik ini jumlah produksi garam meningkat pesat. Di rumah-rumah petani garam menumpuk garam hasil jerih payah mereka. Tumpukan garam juga sampai meluber ke pekarangan bahkan sejumlah ruas jalan Pertamina pun dipergunakan menumpuk garam.

Hanya masalahnya kata Edi, 47 petani garam yang lain,  tumpukan garam yang terlihat menggunung di depan rumah petani garam itu tidak ada harganya. Walaupun tumpukan garam setinggi atap rumah, seandainya dijual harganya tidak seberapa. Padahal sebelum panen garam Tahun 2015 berlangsung,  para petani garam masih bisa menjual hasil keringat mereka ke tengkulak seharga Rp400 per Kg.

Memasuki panen garam pada musim kemarau Tahun 2015, harga jual garam di tingkat petani benar-benar tidak ada harganya. Harga garam berangsur-angsur turun terus. Hingga pada awal bulan November 2015, harga garam itu berada pada titik terendah, yakni hanya laku Rp150 per Kg.

Para petani garam mengaku hanya pasrah menghadapi merosotnya harga jual garam hasil panen Tahun 2015 ini. Mereka merasa kehilangan posisi tawar,  ketika menjual garam ke pihak tengkulak. Sudah lama petani garam menginginkan hadirnya koperasi atau sejenisnya agar mampu menampung hasil jerih payah petani garam dengan harga yang wajar.

“Harga jual garam Rp150 per Kg itu sangat tidak wajar. Oleh sebab itu para petani garam menginginkan adanya sentuhan tangan dari pemerintah saat menjual hasil produksi garam,” katanya. Persoalan garam ini cukup dilematis. di satu sisi harga garam dibiarkan merosot tajam disisi yang lain untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri pemerintah mengimport garam. Seharusnya tidak perlu jauh-jauh mengimpor garam, cukup membeli seluruh produk garam petani saat panen raya dengan harga yang wajar.

Beberapa Tahun lalu pemerintah sudah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) garam yaitu untuk harga garam Kualitas I seharga Rp750 per Kg dan harga garam Kualitas 2 sebesar Rp550 per Kg.

Hanya masalahnya yang membeli garam itu bukan pemerintah melainkan swasta atau tengkulak yang seenaknya menentukan sendiri harga garam di tingkat petani. Sehingga HPP yang ditetapkan pemerintah itu sebagai produk mubajir lantaran tidak berlaku bagi tengkulak garam. (taryani)