Wednesday, 21 November 2018

Meski Suami Takut Istri Tetapi Berani Punya WIL

Minggu, 8 November 2015 — 6:02 WIB

ANEH juga kelakuan Sarwadi, 32, dari Bantul DIY ini. Sehari-hari dia penakut sama istri, tapi diam-diam berani punya WIL juga. Nah, setelah ketahuan, nampak karakter aslinya. Dipaksa istrik ikut menghajar Paisah, 28, WIL-nya mau juga. Akibatnya suami istri ini kompak menjadi pesakitan di Pengadilan Negri Bantul.

Keterbatasan materi sering membuat lelaki jadi minder dan penakut. Bukan saja takut mbayar, tapi takut pula dalam pergaulan masyarakat. Banyak lelaki telat kawin gara-gara faktor ekonomi ini. Banyak pula lelaki yang banting harga. Biar ganteng kayak Gatutkaca, bersedia kawin sama Limbuk karena perempuan itu kaya, atau bakat kaya dalam arti bakal terima warisan banyak.

Contohnya Sarwadi warga Baturetno Banguntapan Bantul. Sampai usia 30 tahun belum punya istri, karena pekerjaannya tidak jelas bila tak mau disebut pengangguran. Setiap cewek yang didekati pasti menghindar, karena kawin dengan Sarwadi bakal kehilangan masa depan. Akibatnya, ketika teman seangkatan sudah berkeluarga, dia masih bujangan tulen.

Untung kemudian ada yang menjodohkan dengan janda Tasmilah, 35. Orangnya sih memang tak menjanjikan, tapi kaya karena punya usaha. Didorong sana sini termasuk dukungan teman-teman minus parpol,  maju juga dia sebagai calon suaminya Tasmilah. Lamaran diterima dan jadilah mereka suami istri yang sakinah dan punya pembantu bernama Sukinah.

Setelah punya istri yang kaya, penampilan Sarwadi pun bisa dipoles. Biasanya naik sepeda ontel, kini punya sepeda motor bingung. Artinya, bentuknya seperti skuter, tapi bukan skuter, karena rodanya besar-besar. Sekarang bisa nggaya, siang-siang naik sepeda motor lampu dinyalakan. Kayak orang kenthir (gila) sebetulnya, tapi UU lalulintas mewajibkan demikian.

Setelah dipoles seperti ubin marmer, Sarwadi memang nampak kiclong, sehingga ada perempuan yang tertarik padanya. Orangnya cantik dan bodinya sekel nan cemekel. Kalau wayang, mungkin sekelas Banowati, sedangkan istri di rumah, jenis Limbuk. Di sinilah Sarwadi mulai bimbang. Loyal pada istri, atau berbalik haluan? “Ah, PAN saja bisa membelot dari KMP, kenapa saya tidak?” begitu Sarwadi menimbang-nimbang.

Jadilah dia pacaran dengan Paisah. Bila dengan istri di rumah Sarwadi merasa cepat kenyang, dengan Paisah bergairah melulu. Maka asal ada kesempatan, mereka janjian cari tempatan koalisi itu dilanjutkan dengan “eksekusi”. Sarwadi benar-benar kemaruk. Ibarat makan, biasanya di rumah pakai beras raskin, kini rajalele dari Delanggu, pulen dan menul-menul.

Lama-lama ketahuan juga skandal Sarwadi – Paisah ini, gara-gara ada SMS bersayang ria.  Tasmilah membentuk pansus dan Sarwadi kena interpelasi. Ketimbang kehilangan sumber ekonomi, dia ngaku saja siapa WIL-nya dan di mana rumahnya. Nah, suami penakut itu diseret ke rumah WIL-nya, dipaksa menyaksikan bagaimana Tasmilah mengamuk di rumah orang.

Paisah yang sedang tidur siang langsung digebrak kamarnya. Dia diseret keluar sambil diunyeng-unyeng. “Kamu perempuan gatel ya, kayak nggak ada lelaki lain, suami orang digangguin,” kata Tasmilah sambil mencakar muka Paisah. Sarwadi yang mencoba mencegah malah didamprat dan kemudian dipaksa ikut menempeleng Paisah beberapa kali. “Lagi, yang keras,” kata Tasmilah, karena Sarwadi namparnya hanya simbolis.

Setelah kenyang nguya-nguya WIL suami, barulah Tasmilah pulang bersama suaminya. Tapi Paisah yang tidak terima segera lapor polisi. Akibatnya suami istri itu ditangkap dan kini diadili di PN Bantul. “Saya mukul Paisah hanya ethok-ethok saja kok Pak,” kata terdakwa Sarwadi.

Meski pura-pura, sakit hati Paisah sampai di sini, lho. (KR/Gunarso TS)