Saturday, 17 November 2018

Kejagung Tegaskan, Kasus Restitusi Pajak PT Mobile-8 Telecom Berjalan

Senin, 9 November 2015 — 19:09 WIB
*ist

*ist

JAKARTA (Pos Kota) – Direktur Penyidikan pada Jampidsus Maruli Hutagalung menegaskan penyidikan kasus restitusi pajak PT Mobile-8 Telecom tetap berjalan dan terus diintensifkan. Siapa pun yang terkait, tidak menjadi beban bagi Kejaksaan.

“Penyidikan jalan terus, kita memeriksa para pihak terkait,” kata  Maruli Hutagalung menjawab soal tindak lanjut kasus PT Mobile-8 Telecom, 2012, di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (9/11).

Menurut dia, pihaknya tidak terbebani dalam menangani kasus dugaan korupsi tersebut dan siapapun yang terkait dengan kasus tersebut akan diperiksa.

“Yang termasuk. Kita sekarang harus memeriksa saksi-saksi lain, baru melangkah kesana. Kenapa tidak,” ujar Maruli menyoal agenda pemeriksaan Hary Tanusoedibyo, pemilik PT Mobile-8 Telecom.

Kasus ini berawal dari transaksi fiktif yang diduga dilakukan oleh  PT Mobile-8 Telecom  ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Surabaya tahun 2012, sebagai bagian dari upayanya  masuk bursa (untuk dicatatkan di lantai bursa)  Jakarta.

Perusahaan PT Mobile-8 Telecom, sebelumnya dimiliki oleh Hary Tanusoedibyo dan berubah menjadi Smartfren, sesudah dibeli oleh kelompok usaha Sinar Mas Group.

Transaksi Fiktif Untuk Kelengkapan Administrasi

Belakangan, dari penyelidikan terhadap  Direktur PT Djaya Nusantar Komunikasi bahwa transaksi antara PT Mobile8 Telecom dan PT DJaya Nusantara Komunikasi tahun 2007-2009 ‎lalu senilai Rp 80 miliar adalah transaksi fiktif dan hanya untuk kelengkapan administrasi pihak PT Mobile-8 Telecom, yang akan mentrasnfer uang senilai Rp 80 milar ke rekening PT Djaya Nusantara Komunikasi.

Transfer tersebut dilakukan pada Desember 2007 dengan dua kali transfer, pertama transfer dikirim senilai Rp 50 miliar dan kedua Rp 30 milar.‎ Namun faktanya,  PT DJaya Nusantara Komunikasi tidak pernah menerima barang dari PT Mobile-8 Telecom.

Permohonan restitusi pajak lalu dikabulkan oleh KPP, padahal transaksi perdagangan fiktif dan transaksi tersebut dilakukan saat PT Mobil8 Telecom masih dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo. (ahi/win)