Friday, 16 November 2018

Reyog Ponorogo Dibakar di Davao, KRP Temui Menlu Retno Marsudi

Senin, 9 November 2015 — 22:31 WIB
Tokoh-tokoh Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) berfoto bersama Menlu Retno LP Marsudi. (ist)

Tokoh-tokoh Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) berfoto bersama Menlu Retno LP Marsudi. (ist)

JAKARTA – Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) menemui Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi untuk mempertanyakan insiden pembakaran Reyog Ponorogo di KJRI Davao – Philipina. Menlu Retno yang menerima langsung memberikan klarifikasi, dan meminta pecinta reyog untuk manahan diri.

Menurut Wakil Ketua Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) Suparno Nojeng, pertemuan berlangsung Senin (9/11) mulai pukul 14.00 – 15.00 di Ruang Rapat Menlu, Jalan Pejambon 6 Jakarta Pusat. KRP menyampaikan beberapa hal yakni, antara lain, minta press release “klarifikasi” yang dikeluarkan KJRI Davao City, Republik Filipina, Sabtu 31 Oktober 2015 (tanpa ada tanda tangan dan pejabat yang mengeluarkan) penuh dengan kejanggalan, seperti tahun aset 1988.

“Kami juga mempertanyakan Tim yang dibentuk Kemlu terkait insiden tersebut, sebagaimana disampaikan Direktur Informasi dan Media, Siti Shofia Sudarma pada Senin 2 November 2015 di Kemenlu,” kata Suparno dalam rilis yang diterima redaksi, Senin malam.

Menurut dia, saat ini perlu pengawalan terhadap Tim yang dibentuk Kemlu sehingga berjalan secara terbuka, transparan dan penuh kejujuran. Sensitifitas Kemlu terhadap insiden ini sangat ditunggu pegiat dan pecinta Reyog.

Pihaknya berpendapat, insiden ini harus diselesaikan secara hukum (baik pidana, maupun perdata) sehingga terungkap “aktor intelektual”nya. “ Perlindungan dan jaminan keamanan terhadap WNI yang ada di Davao, khususnya WNI yang telah mengungkap insiden ini,” ungkapnya sambil menambahkan, berita pembakaran reyog tersebut telah membuat suasana panas, terutama di Ponorogo.

Menenangkan Pecinta Reyog

Sementara itu, kata Suparno, Menlu Retno LP Marsudi yang didampingi Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Esti Andayani menyampaikan beberapa hal. “Di antaranya, meminta KRP untuk menenangkan reaksi masyarakat pecinta Reyog, dan memahami suasana kebatinan pecinta reyog dan tidak ada upaya untuk tidak menghormati budaya karena hal telah melekat dalam diri diplomat,” ujarnya mengutip pernyataan Menlu.

Dikatakan pulan Menlu telah mendapatkan informasi dari Konsulat Jenderal Eko Hartono, property reyog telah mengalami kerusakan dan ada instruksi untuk segera menggantinya. Juga, telah dilakukan audit internal oleh pihak KJRI Davao, sementara audit eksternal dilakukan oleh Inspektorat Jenderal, berupa Tim untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di KJRI Davao, progress maupun hasil akan terbuka dan dapat diakses oleh publik.

Ditekankan pula, soal azas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan terhadap insiden pembakaran reyog. Menlu juga menjamin WNI yang berada di Davao City yang melaporkan insiden pembakaran reyog, tidak akan terjadi apa-apa, apalgi terjadi kekerasan.

Pada kesempatan tersebut, lanjut SUparno, KRP menyerahkan berkas-berkas seperti foto prosesi pembakaran reyog, foto seniman reyog yang tampil di KJRI Davao tahun 2005, copy Klarifikasi KJRI, copy pernyataan maaf staf KJRI, nama-nama orang yang harus diperiksa oleh Tim Kemlu, dan berkas-berkas lainnya. (rel/winoto)