Saturday, 22 September 2018

Amerika Serikat Melawan Jihadis di Jejaring Sosial

Selasa, 17 November 2015 — 17:51 WIB
social-media-sites

AMERIKA Serikat melancarkan serangan terhadap Islamic State dan Al Qaeda di media sosial. Upaya ini diluncurkan dengan harapan dapat membendung penyebaran gagasan kelompok militan ini.  Demikian Deutsche Welle memberitakan.

Para diplomat dan pakar memang mengakui bahwa serangan di dunia maya yang dilancarkan di Twitter, Facebook dan YouTube tidak akan pernah menjadi solusi jitu untuk memerangi para jihadis. Namun para pejabat Amerika Serikat melihat media sosial sebagai medan perang yang semakin penting untuk mengubah pandangan kaum muda di negara-negara Islam terhadap kelompok radikal seperti Islamic State (IS) dan Al Qaeda.

Dalam 18 bulan terakhir, pihak berwenang AS telah menyoroti puluhan akun di jejaring sosial yang terkait dengan gerakan Islam radikal. Dan lewat akun-akunya sendiri, Amerika Serikat menulis komentar, mengirim foto dan video di akun-akun kelompok radikal tersebut.

Kelompok jihadi itu masih relatif merupakan kekuatan kecil dan kekuatannya tidak terletak dalam jumlah. Berikut alasan yang diidentifikasi oleh para ahli militer mengenai kenapa IS sukses.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menggambarkan bahwa strategi ini sebagai kampanye gerilya siber. “Ini bukan obat mujarab, ini bukan peluru perak… Ini merupakan satu perang yang terdiri dari ribuan pertempuran. Tapi tidak ada pertempuran besar. Amerika menyukai pertempuran besar, tapi ini bukan. Ini seperti perang gerilya,” dikatakan pejabat tersebut.

Pihak berwenang AS mengatakan bahwa aksi ofensif di sosial media ini merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa Amerika juga hadir dalam kampanye di jejaring sosial yang sebelumnya didominasi kelompok Islam radikal. Tujuan utamanya adalah untuk membuat para remaja di Barat atau negara-negara Islam untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk pergi ke Irak atau Suriah bergabung dengan militan IS.

William Braniff, direktur eksekutif START, pusat studi dan pendidikan di University of Maryland yang berfokus pada masalah terorisme, mengatakan, strategi online yang dijalankan AS merupakan satu langkah benar, namun akan memerlukan waktu lama untuk membuahkan hasil.” – DW.DE/d