Saturday, 26 May 2018

Utang Luar Negeri Indonesia Capai 302 Miliar Dollar Amerika

Rabu, 18 November 2015 — 21:33 WIB
Ilustrasi.

Ilustrasi.

JAKARTA (Pos Kota) – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan ketiga 2015 turun.

“Utang Luar Negeri (ULN) pada akhir triwulan ketiga 2015 tercatat sebesar 302,4 miliar dolar AS. Turun 2,1 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir triwulan kedua 2015 sebesar 304,5 miliar dolar AS,” kata Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Tirta Segara, melalui siaran persnya yang diterima Pos Kota, Rabu (18/11/2015) malam. Ia mengungkap menurunnya utang tersebut, seiring turunnya posisi ULN, baik swasta maupun sektor publik. Posisi ULN swasta turun 1,7 miliar dolar AS, terutama utang bank. Sedangkan utang sektor publik turun 0,4 miliar dolar AS, karena turunnya utang pemerintah.

Dengan turunnya utang luar negeri ini, lanjutnya, pangsa ULN sektor swasta tercatat 55,6 persen atau setara 168,2 miliar dolar AS. Angka ini lebih besar dari pangsa utang sektor publik sebesar 44,4 persen atau setara 134,2 miliar dolar AS. Selain itu, BI juga menyebutkan pertumbuhan ULN Indonesia pada triwulan ketiga 2015 juga melambat dibandingkan triwulan kedua 2015 dari 6,2 persen (yoy) menjadi 2,7 persen(yoy).

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan ketiga 2015 didominasi utang jangka panjang yang mencapai 85,5 persen dari total ULN.
ULN berjangka panjang tersebut sebagian besar berasal dari ULN sektor publik yang mencapai 50,8 persen dari total utang luar negeri jangka panjang.

Sedangkan ULN berjangka pendek didominasi sektor swasta yang mencapai 93,7 persen dari total ULN jangka pendek. Pertumbuhan ULN berjangka panjang pada triwulan ketiga 2015 tercatat 4,6 persen (yoy) lebih rendah dibanding triwulan kedua 2015 yang mencapai 8,3 persen (yoy).

Menurut sektor ekonomi, ia menjelaskan utang luar negeri swasta pada akhir triwulan ketiga 2015, terutama terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa utang luar negeri keempat sektor tersebut mencapai 76,2 persen terhadap total ULN swasta. Dibandingkan triwulan sebelumnya, pertumbuhan tahunan ULN sektor listrik, gas dan air bersih meningkat. Sementara pertumbuhan tahunan ULN sektor keuangan dan sektor industri pengolahan tercatat semakin melambat.

Di sisi lain, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan masih mengalami kontraksi, meski tidak sedalam kontraksi yang terjadi pada triwulan sebelumnya. BI memperkirakan perkembangan ULN pada triwulan ketiga 2015 masih cukup sehat. Namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian. “Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta,” ujar Tirta. Ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas makro ekonomi. (setiawan/ruh)