Sunday, 18 November 2018

Menteri Pariwisata Buka Festival Danau Toba

Jumat, 20 November 2015 — 10:44 WIB
Foto-Festival Danau Toba

Foto-Festival Danau Toba

MEDAN (Pos Kota) – Festival Danau Toba (FDT) tahun 2015 di Brastagi, Kabupaten Karo, Sumut, resmi dibuka Menteri Pariwisata Arief Yahya didampingi Plt Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi didampingi istrinya Evi Diana.

Dan Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan Hasan Basri, Pj Wali Kota Medan Randiman Tarigan, Pj Bupati Samosir Anthony Siahaan, Pj Bupati Toba Samosir Hasiholan Silaen, dan Pj Bupati Humbang Hasundutan Bukit Tambunan.

Saat rombongan tiba di lokasi langsung disambut patroli kuda Polres Tanah Karo. Namun, acara pembukan kurang nyaman karena Jalan masuk dan lapangan tempat pertunjukan becek di beberapa bagian.

Acara penyambutan diisi dengan pawai pakaian adat dari daerah Karo, Batak, Simalungun, dan Pakpak serta iring-iringan ulos sepanjang 400 meter yang disebutkan masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) yang diperagakan ratusan pelajar.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dan rombongan juga disuguhkan dengan penampilan budaya yang diawali tarian etnis Karo dan diikuti tarian Sigale-gale yang merupakan tarian simbol semangat dan perjuangan.

Usai penampilan tari-tarian itu, dilakukan upacara penyambutan secara adat batak terhadap Menteri Pariwisata Arief Yahya. Sejumlah tokoh adat memasangkan topi khas Batak sebagai simbol dalam menyerahkan tanggung jawab, syal sebagai lambang keadilan, dan kain yang diikatkan di pinggang sebagai lambang penerimaan dan doa agar Menteri Pariwisata Arief Yahya terlindung dari perbuatan cela.

Kemudian Bupati Karo Terkelin Brahmana memasangkan “pisau tumbuk lada” di pinggang kanan Menteri Pariwisata Arief Yahya sebagai lambang semangat dan kewibawaan.

Setelah itu, ditampilkan Tari Sembilan Cawan yang dibawakan puluhan pelajar dengan memercikkan air kepada masyarakat yang menghadiri pembukaan Festival Danau Toba. Air tersebut dianggap sebagai simbol air suci agar masyarakat terhindar dari marabahaya dan cobaan yang tidak sanggup untuk dihadapi.
(samosir/sir)