Monday, 19 November 2018

Memilih Makin Susah

Sabtu, 28 November 2015 — 5:47 WIB

Oleh S  Saiful Rahim

ADA rencana mau mudik gak, Mas?” tanya orang duduk di ujung kiri bangku panjang yang merupakan satu-satunya bangku di warung kopi Mas Wargo.

“Kenapa kau tanya Mas Wargo mau mudik apa ngggak? Lebaran saja dia tidak pernah mudik, ada urusan apa sekarang kok mau mudik?” kata Dul Karung sebelum Mas Wargo menjawab.

Seperti biasa, sambil meletakkan bokong di bagian bangku yang kosong, tangan Dul Karung mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Kau sudah memberi salam apa belum, Dul? Kayaknya aku belum dengar deh,” sela orang yang duduk di dekat pintu masuk yang tadi bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Sudah, di dalam hati,” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong.

“Beri salam kok di dalam hati?” kata orang itu lagi.

“Aku pernah mendengar ada ustadz yang mengatakan bahwa Allah Swt mencatat apa yang ada di dalam hati hamba-Nya,” jawab  Dul Karung sambil menyeruput tehnya yang masih panas.

“Makanya kalau mau mengaji duduk di majelis, jangan mendengarkan sambil jalan di gang, jadi yang terdengar cuma separo-separo,” kata seseorang entah siapa dan yang mana yang serta merta mengundang gelak tawa.

“Sudah, sudah. Warung ini jangan dijadikan tempat bertengkar kayak Gedung DPR. Tadi siapa yang bertanya apakah aku akan segera mudik atau tidak?” sela Mas Wargo ingin mencegah obrolan makin larut tak berujung.

“Saya yang, Mas!” jawab orang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Maksud pertanyaan itu apa?” tanya Mas Wargo, dan Dul Karung yang ikut-ikutan nimbrung.

“Sebentar lagi kan akan ada Pilkada serentak. Sebagai warga negara yang baik tentu Mas Wargo takkan jadi golput. Nah, itu kan berarti Mas Wargo mesti pulang kampung untuk memilih. Saya ingin mengingatkan sebelum Mas Wargo mudik, tagih dulu utang-utang Dul Karung. Keenakan dia dong kalau utangnya tidak ditagih-tagih,” kata orang itu mengundang tawa orang yang mendengar. Kecuali Dul Karung dan Mas Wargo, yang berhati lapang.

“Aku tidak mudik, karena KTP-ku sudah KTP DKI. Lagi pula kalau aku ikut Pilkada aku akan bingung harus memilih siapa?” jawab Mas Wargo sambil mengaduk kopi susu pesanan seorang pembeli.

“Betul, Mas. Memilih, baik di Pemilu atau Pilkada, sekarang jadi lebih susah dan membingungkan. Baru kampanye atau berdebat saja sang calon dan para pendukungnya sudah cakar-cakaran dengan calon dan pendukung yang lain. Nah, siapa berani jamin bila calon A menang, misalnya, pemerintahannya kelak tidak dirongrong oleh mantan calon B dan para pengikutnya yang kalah? Dan siapa pula yang berani jamin, setelah memerintah si A dan pengikutnya itu tidak minta lahan?” kata Dul Karung panjang lebar.

“Apa maksudmu minta lahan?” tanya entah siapa dan yang mana lagi.

“Ya kalau di pusat ada yang minta saham, di daerah mungkin minta lahan? Sekarang kan di daerah bukan hanya ada lahan sawah seperti dulu, juga ada lahan tambang,” jawab Dul Karung sambil meninggalkan warung dengan begitu saja. (syahsr@gmail.com )