Sunday, 23 September 2018

Hanya Hujan Yang Bisa Menaikkan Harga Garam

Minggu, 29 November 2015 — 23:56 WIB
Di Kecamatan Losarang dan Kandanghaur, tumpukan karung garam saat ini mudah terlihat di mana-mana, bukti sukses memproduksi, tapi sulit menaikkan harga. (taryani)

Di Kecamatan Losarang dan Kandanghaur, tumpukan karung garam saat ini mudah terlihat di mana-mana, bukti sukses memproduksi, tapi sulit menaikkan harga. (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) –  Setelah produksi garam menumpuk, para petani garam di Kecamatan Kandanghaur, Losarang dan Krangkeng, seperti petani padi, mereka berharap hujan segera turun. Soalnya, dengan curah hujan tinggi, diyakini harga garam bakal meningkat.

Hal itu disebabkan karena hukum ekonomi, musim penghujan produksi garam terhenti dan diharapkan permintaan garam meningkat.

“Harapan kami sebagai petani garam, harga garam itu berada pada kisaran Rp500 per kilogram (Kg). Kalau sekarang,  saat musim panen garam,  harganya sangat jatuh. Per kilogram garam Kualitas 1 hanya dihargai oleh pembeli atau tengkulak sebesar Rp150 saja,” kata Dirga, 51.

Dikatakan, yang bisa menolong agar harga garam di tingkat petani itu naik,  ternyata cuaca atau  turunnya hujan deras sepanjang musim penghujan. Bukan lembaga ekonomi seperti koperasi. Karena para petani garam pun umumnya sudah mengetahui di desanya saat ini tidak ada segelintir koperasi pun yang beroperasi.

Padahal selayaknya koperasi bergerak  menolong nasib para petani garam, yaitu membeli hasil produksi garam petani dengan harga yang wajar.

Sebagaimana diketahui, pemerintah beberapa Tahun yang lalu sebetulnya sudah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) garam. Harganya untuk garam Kualitas 1 sebesar  Rp750 per Kg dan harga garam Kualitas 2  yaitu Rp550 per Kg.

Petani Tak Punya Posisi Tawar

Masalahnya, siapa yang mau membeli garam produksi rakyat yang sesuai HPP itu. Yang ada sekarang ini produksi garam rakyat di Indramayu itu seluruhnya diborong tengkulak atau pedagang besar. Petani garam sama sekali tidak mempunyai posisi tawar terhadap hasil produksi mereka karena garam ditentukan secara sepihak, sehingga harga garam itu saat panen sangat jatuh dibawah HPP.

“Ada atau tidak ada HPP itu tidak berpengaruh. Yang dibutuhkan petani garam itu yaitu hadirnya lembaga ekonomi seperti koperasi atau mitra kerja Perusahaan Negara (PN) Garam yang bergerak membeli garam produksi rakyat dengan harga sesuai HPP,” ujar Armin,48 ketika dihubungi Pos Kota, Minggu (29/11).

Di Kecamatan Losarang dan Kandanghaur, tumpukan karung garam saat ini mudah terlihat di mana-mana. Di teras rumah, di gudang, di gubug-gubug tepi jalan Pantura,  bahkan garam sampai ditumpuk tinggi-tinggi di sepanjang Jalan Pertamina Desa Santing.

Tumpukan garam itu menandakan bahwasanya rakyat sukses memproduksi garam. Tinggal kehadiran lembaga pemerintah saja membeli garam hasil produksi petani yang sangat ditunggu-tunggu.

Harga garam yang rendah membuat tingkat kesejahteraan para petani garam sulit beranjak maju. Harapan nasib mereka terangkat karena sudah berhasil memproduksi garam itu sama sekali terkekang oleh harga rendah saat panen raya.

Saat panen raya garam petani diborong murah seharga Rp150 per Kg. Tapi  setelah disimpan dua atau tiga bulan garam itu  dijual dan harganya sudah melambung 3 atau 4 kali lipat.(taryani/win)

  • Panglima Fendy Ibrahim

    rezeki yang sebenarnya adalah hujan.
    aku pun tidak tau mengapa uang kertas sebagai mata uang yang sah.