Friday, 16 November 2018

Berapa sih Harga Duit?

Sabtu, 5 Desember 2015 — 5:58 WIB

Oleh S Saiful Rahim

SEPERTI biasa, ketika melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo, Dul Karung mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih. Tapi setelah masuk dia menarik nafas berat, duduk, dan bengong.

“Ada apa Dul? Kau tampak tidak seperti biasanya?” tanya orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung, yang sebelumnya bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Aku bingung,” jawab Dul Karung. Lalu dia mencoba mencomot singkong goreng seperti lazimnya, tapi tiba-tiba urung.

“Apa yang membuatmu bingung? Bukankah bingung itu sudah menjadi makananmu setiap hari?” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang membuat si Dul urung mencomot singkong goreng.

“Aku bingung memikirkan berapa sih harga duit?” jawab Dul Karung membuat beberapa yang hadir dan mendengar menjadi kaget.

“Harga uang? Maksudmu harga dolar? Apa kau mau ke luar negeri?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Mau umrah, ya?” tanya entah orang yang mana dan siapa, menyela?

“Kalau utangnya masih banyak, gak boleh umrah, dong,” potong orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Atau kau mau buka money changer ya?” tanya orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

Dul Karung tidak segera menjawab. Dia menyeruput dulu teh manis yang baru disodorkan Mas Wargo. Tapi dia langsung kelabakan karena tehnya masih panas sekali.

“Semua dugaan kalian salah. Aku bukan mau umrah, apalagi membuka money changer,”  jawab Dul Karung dengan lidah yang bengkok karena tak bisa menyebut kata money changer.

“Lalu apa urusanmu ingin tahu harga uang?” serobot orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Oh, kalau itu begini ceritanya,” jawab Dul Karung sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Beberapa hari yang lalu aku baca di koran ada pemuda membunuh neneknya karena minta uang Rp100 ribu untuk beli rokok tidak diberi. Nah, apa itu berarti nilai atau harga duit Rp100.000 sama dengan nyawa seorang nenek? Kalau begitu nilai saham yang sedang diributkan di MKD setara dengan berapa nyawa nenek-nenek?” sambung Dul Karung.

“Wah pikiran Saudara sadistis sekali,” bentak orang yang duduk selang lima di kanan Dul Karung yang berpakaian safari.

“Maaf, Pak! Saya ini rakyat kecil. Kata almarhumah nenek saya yang suka mengutip omongan orang pandai, rakyat akan menjadi baik bila pemimpinnya  baik. Artinya kan, kalau pemimpin cuma ribut cari saham gratisan, rakyatnya mungkin saja membunuh nenek sendiri untuk cari duit Rp100 ribu,” kata Dul Karung sambil buru-buru meninggalkan warung.

Dia tidak sempat lagi mendengar ada orang yang berkata, “Sayang sekali ya Dul, rakyat telah membuang waktu dan tenaga, serta negara menghabiskan uang entah berapa triliun untuk pemilu dulu, hasilnya cuma mendapatkan pemimpin yang sibuk memperkaya diri dan golongannya. (syahsr@gmail.com )