Tuesday, 25 September 2018

Makin Ketauan Deh

Sabtu, 12 Desember 2015 — 5:58 WIB

Oleh S Saiful Rahim

SEPERTI biasa, Dul Karung mengucapkan assalamu alaykum bersamaan dengan kaki kanan melangkah masuk ke warung Mas Wargo. Lalu tangannya mencomot singkong goreng yang ketika akan dicaploknya, seseorang yang duduk selang tiga di kanan si Dul berteriak, ”Tunggu, Dul!”

“Ada apa?!” tanya Dul Karung seraya mengurungkan niat mencaplok singkong yang sudah menyentuh bibirnya.

“Kau harus tahu legalitasnya dulu. Benar atau tidak itu singkong? Dan kau juga harus tahu kepemilikan Mas Wargo atas singkong tersebut. Dia cabut dari kebun sendiri atau membelinya di pasar. Kalau hasil  dari kebun sendiri, harus kau periksa sertifikat tanahnya. Atas nama Mas Wargo, bukan? Kalau singkong itu dibeli di pasar, kau periksa resi pembayarannya,” jelas orang itu membuat semua hadirin bingung. Terutama Dul Karung dan Mas Wargo.

Berbeda dari biasanya, Mas Wargo yang jarang ikut campur obrolan pelanggannya, kali ini benar-benar naik pitam. Tiba-tiba dia menggebrak meja sehingga semua orang yang ada di sana kaget.

“Apa-apaan sih, ni? Sejak zaman leluhur nenek moyangku yang tidak aku kenal, umbi pohon yang seperti itu namanya singkong, alias tela atau pohung. Singkong itu aku beli di pasar tradisional, dan tentu saja tidak ada kwitansi, resi pembayaran atau apa pun namanya. Tapi demi Allah, aku tidak mencurinya,” kata Mas Wargo dengan suara bergetar karena menahan amarah.

“Lagi pula kalau singkong itu bukan dibeli tapi dicuri oleh Mas Wargo, lalu kenapa?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang merupakan satu-satunya bangku yang ada di warung itu.

“Wah, Anda rupanya tidak belajar hukum pada sidang MKD ya?” tanya orang itu sinis.

“Apa itu MKD? Sehingga orang bisa belajar hukum di sana?” kata dan sekaligus tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Astaga, MKD kok gak tahu? Mahkamah Kehormatan Dewan. Dewan di sini maksudnya Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat itu. Makanya para anggota MKD disapa dengan sebutan Yang Mulia.”

“Lalu apa hubungannya dengan singkong?” sela Dul Karung, memotong “perang mulut” kedua orang tersebut.

“Kalau dengan singkong, sidang MKD memang tidak ada hubungannya. Tetapi ada pendapat anggota sidang MKD yang mengatakan rekaman yang dijadikan barang bukti di sidang tersebut tidak sah. Karena diperoleh secara ilegal,” jelas orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung tadi.

“Jadi tadi Anda melarang aku mencaplok singkong karena legalitasnya belum jelas? Padahal faktanya itu memang singkong. Dibeli atau dicolong oleh Mas Wargo, barang itu tetap singkong. Yang bila sudah digoreng aku doyan sekali. Jangan dikait-kaitkan dengan tingkah laku anggota MKD di sidanglah. Kalau kata Gus Solah, di Jawa Timur MKD diartikan “Mahkamah Koncone Dewe,” aku malah mengira MKD adalah “Makin Ketauan deh,” kata Dul Karung.

“Makin ketahuan apanya, Dul?” tanya entah siapa dan yang mana.

“Makin ketahuan mau belain ketuanya,” jawab Dul Karung sambil pergi meninggalkan warung Mas Wargo begitu saja. ( syahsr@gmail.com )