Monday, 19 November 2018

Bedanya Hukum dan Etika

Sabtu, 19 Desember 2015 — 5:20 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“TAHUKAH kalian apa bedanya hukum dan etika?” tanya Dul Karung seraya duduk di bagian kosong dari bangku panjang yang merupakan satu-satunya bangku yang ada di warung kopi Mas Wargo.
               
Seperti biasa, sebelum masuk ke warung Dul Karung mengucapkan salam assalamu alaykum dengan fasih. Beberapa hadirin pun hampir serempak menjawabnya dengan nyaring, walaupun ada yang setengah berolok-olok.
              
“Maaf kami tidak paham, Yang Mulia. Kami hanya mendengar kedua kata-kata itu banyak disebut-sebut semasa sidang MKD,” jawab entah siapa dan yang mana di antara orang-orang yang ada di warung.

 “Etika adalah sesuatu yang dikenakan kepada manusia, sedangkan hukum lebih banyak ditujukan kepada binatang,” jelas Dul Karung dengan lagak agak sok.

“Berkenankah Yang Mulia jelaskan secara lebih rinci kepada kami?” kata orang yang duduk di kiri Dul Karung meniru gaya pembicara sebelumnya yang sinis pada gaya sidang MKD.

Tidak langsung menjawab, Dul Karung menyeruput dulu teh manis panas yang ada di depannya. Batuk-batuk sebentar, kemudian dia berkata: “Kalau ada kucing naik dan duduk di meja, hukumlah dia. Misalnya dengan memukul kepalanya. Dengan demikian dia akan tahu tidak boleh naik, apalagi duduk, di  meja.”

“Kalau ada orang yang duduk di atas meja?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang memotong kalimat si Dul.

“Nah, itu namanya orang tersebut tidak tahu etika,” jelas Dul Karung.

“Kalau dia orang yang pandai dan pemimpin suatu lembaga negara? Masak iya gak etika?” potong orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Kalau demikian halnya orang itu meremehkan etika,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan nada emosi.

“Ya benar! Tak pantas lagi dijadikan pemimpin meskipun di tingkat RT atau tingkat yang lebih rendah lagi dari itu,” sambar orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Menurut ustadz H Marzuki, di Al-Quran ada ayat yang menyatakan bahwa orang yang berzina menikah dengan pezina juga. Kalau begitu boleh dong kita beranggapan bahwa yang memilih pemimpin yang melanggar etika, ya melanggar etika juga?” tanya dan sekaligus komentar orang yang  duduk di kiri Dul Karung.

“Sebelum pertanyaan atau komentar itu ada yang menjawab, aku ingin titip satu pertanyaan lain. Tadi Dul Karung bilang etika itu dikenakan terhadap manusia, sedangkan hukum diperuntukkan bagi hewan. Nah, kalau ada orang yang sudah dicap melanggar etika tapi masih dicari kesalahannya dari sudut hukum bagaimana?” sela orang yang duduk selang dua di kiri Dul Karung.

Karena tidak ada yang menjawab, Dul Karung sambil meninggalkan warung Mas Wargo menyeletuk, “Iya yaaa? Masa iya dianggap separo-separo.” ( Syahsr@gmail. com )