Sunday, 23 September 2018

Pelaku ‘Mesum’ dan Penjudi Dihukum Cambuk di Aceh

Senin, 28 Desember 2015 — 19:25 WIB
Mahasiswi yang dicambuk karena ditemukan berduaan dengan seorang mahasiswa.

Mahasiswi yang dicambuk karena ditemukan berduaan dengan seorang mahasiswa.

SEPASANG mahasiswa dihukum karena khalwat dan empat penjudi dicambuk di Banda Aceh. Hukuman itu  menurut wali kota berdampak signifikan terhadap pengurangan pelanggaran syariah.

Hukuman cambuk terhadap enam orang lima kali Senin (28/12) disaksikan oleh ratusan warga serta  pejabat pemerintah kota Banda Aceh.

Pasangan mahasiswa dihukum karena terbukti bersalah melanggar Qanun nomor 14 tahun 2003 tentang khalwat setelah ditemukan berduaan sementara empat lainnya melanggar Qanun nomor 13 tentang perjudian.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal mengatakan sejak pelaksanaan hukuman cambuk i, “banyak pengurangan dari aktivitas yang melanggar syariah.”

“Memang setelah kita jalankan terlihat bahwa banyak pengurangan dari aktivitas yang melanggar syariah seperti perjudian, minuman keras dan hal-hal lain walaupun belum mampu kita atasi secara menyeluruh. Tapi perubahan yang ada cukup signifikan dan besar juga agar masyarakat betul-betul taat dan patuh terhadap aturan hukum yang ada,” kata Illiza kepada BBC Indonesia.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dalam laporan tahunannya menyebutkan adanya dugaan praktik pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam berbagai peraturan daerah termasuk pelaksanaan Qanun Nomor 6 2014 tentang Jinayat (hukum pidana) yang mulai dilaksanakan pada 23 Oktober 2015.

Hukuman cambuk di halaman Masjid Masjid Baiturrahim diiringi dengan sorakan sejumlah dari ratusan warga yang menonton.

Mahasiswi yang dikenakan hukuman cambuk dilaporkan tersungkur pingsan dan dilarikan dengan ambulans.

Wali kota Illiza mengatakan pelaksanaan hukuman cambuk ini merupakan “bentuk pembelajaran.”

“Bentuknya adalah pembelajaran, kita tidak ingin mempermalukan manusia. Secara aturan hukuman memang dilakukan di depan publik, tapi yang saya hindari kegiatan di depan anak-anak,” kata Illiza dan menambahkan pihaknya berusaha mencegah agar jangan sampai mereka yang di bawah umur ikut menyaksikan.

“Ini bukan sesuatu yang hina, tapi mereka mensyukuri mereka bukan di posisi itu dan berniat untuk tidak melakukan,” tambahnya.

Namun ia juga menekankan selain hukuman ini, ada pula langkah pembinaan terhadap pelaku untuk “diarahkan agar dia menyesali perbuatannya.” (BBC)