Sunday, 19 November 2017

Warga Indramayu Banyak Kena HIV, Hentikan Pelacuran!

Rabu, 30 Desember 2015 — 17:12 WIB

INDRAMAYU (Pos Kota) – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dr.H.Dedi Rohendi, MARS mengajak masyarakat Kabupaten Indramayu bersama-sama menghentikan kegiatan prostitusi atau pelacuran.  Pasalnya, jumlah warga Indramayu yang terkena  HIV/AIDS angkanya cukup mencengangkan mencapai 243 orang.

Yang mencemaskan, katanya dari jumlah penderita HIV/AIDS ada  243 orang,   25 orang penderita diantaranya adalah ibu hamil, ujar dr.H.Dedi Rohendi, MARS ketika dihubungi Pos Kota, Rabu (30/12).

“Temuan penderita baru HIV/AIDS sebanyak 243 itu dari Januari 2015.  Kita harus lebih  waspada  karena datanya baru pada bulan 9 tapi jumlah penderita HIV/AIDS nya sudah sebanyak itu,” ujarnya seraya menambahkan, jumlah penderita HIV/AIDS itu merupakan  penderita yang baru ditemukan setelah ada pemeriksaan HIV/AIDS. Seperti pemeriksaan tidak sengaja secara tiba-tiba kemudian tersandung HIV/AIDS.

Dikatakan, penyakit HIV/AIDS itu karena adanya  penurunan system kekebalan tubuh. Penularannya, hampir 99 persen karena pernah melakukan hubungan seksual atau lewat transfusi darah. Ada juga yang melalui ibu kepada bayinya. Termasuk lewat jarum suntik. “Nah di kita penularan HIV/AIDS itu hampir 90 persen karena hubungan seksual. Berarti di sinilah faktornya. Jadi  kalau menurut saya, kegiatan esek-esek ini sudah waktunya untuk dibereskan,” ujarnya.

Ditanya mengenai upaya apa yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu dalam menekan jumlah penderita HIV/AIDS itu katanya yang pertama; melakukan kegiatan penyuluhan tentang bahaya HIV/AIDS dan dampaknya apa. Kedua, setelah penyuluhan   melakukan pemeriksaan. “Kita jugasebar VCD di Puskesmas tentang penemuan HIV/AIDS itu,” katanya.

dedi2

Dalam memerangi HIV/AIDS itu diakui Kadinkes Indramayu menemui kendala. HIV/AIDS itu tidak bisa diperangi hanya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu. Tanpa keterlibatan semuanya. “Masalah kesehatan seperti itu harus ada keterlibatan masyarakat,  pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan juga swasta. Ke-tiganya harus bersinergi.  Kalau  Dinas Kesehatan bergerak, swasta dan  masyarakatnya diam saja  ya repot,” imbuhnya.

Sudah seringkali penyuluhan dilakukan, tapi kata dr.Dedi pihaknya masih  belum bisa menilai hasilnya. Apakah  masyarakat itu  mengerti atau tidak dari kegiatan penyuluhan itu. “Tapi  dari dampak penyuluhan saja ternyata penderitanya masih banyak. Apa kita salah yang disuluh atau kita salah tempat penyuluhannya. Kita kadang-kadang melakukan penyuluhan ini kepada orang-orang yang baik. Bukan ke WTS di tempat prostitusi. (taryani)