Sunday, 23 September 2018

Papua Nugini Operasikan Bus Khusus untuk Perempuan

Senin, 4 Januari 2016 — 18:50 WIB
Bus untuk Perempuan

PORT MORESBY – Lewat kerjasama dengan Australian Aid dan PBB, pemerintah Papua Nugini menyediakan bus khusus untuk penumpang perempuan di ibukota Port Moresby, dimana sebelumnya ada laporan bahwa 90 persen penumpang perempuan mengalami tindak kekerasan ketika menggunakan transportasi publik.

Port Moresby adalah kota terbesar di Papua Nugini, dan merupakan salah satu kota yang paling tidak bersabat bagi perempuan di dunia. Demikian kantor berita ABC memberitakan.

Mereka menghadapi tindak kekerasan dan pencopetan setiap hari, khususnya ketika mereka menggunakan Kendaraan Umum Publik (PMV) di kota tersebut.

Sekarang akan ada bus khusus perempuan yang dilengkapi dengan petugas keamanan. Selain sopi dan petugas keamanan, laki-laki dilarang naik ke dalam kendaraan ini.

Anne Sipusipu, seorang guru di Port Moresby menggunakan PMV untuk bekerja setiap hari, dan seperti banyak perempuan lain, dia pernah menjadi korban kejahatan.

“Tas saya pernah dijambret, juga tas teman saya,  dan kami kemudian mengejar pelakunya untuk mengembalikan tas kami.” katanya.

Lily Korowa, seorang pelajar putri yang menumpangi PMV setiap hari mengatakan kriminal biasanya sengaja mencari korban pelajar perempuan.

“Beberapa orang merampas telepon saya, dan juga mengambil uang dari tas saya.” kata Korowa.

“Saya sedang merasa takut dan tidak merasa aman untuk naik bus PMV.”

Sebagian besar tindak kejahatan di bus PMV ini dilakukan oleh laki-laki, dan karenanya Australian Aid dan PBB sekarang mendanai pengadaan bus khusus perempuan yang berjalan satu jam sekali.

Katherine Webber,  koordinator program Safe Cities PBB di Port Moresby mengatakan mereka menemukan bahwa 90 persen wanita melaporkan mengalami tindak kekerasan ketika berada di tempat penantian bus, sedang dalam perjalanan ke tempat stopan, dan di dalam bus sendiri.

“Jadi sekarang kami memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan perjalanan, sehingga mereka tidak mengalami tidak kekerasan.”

Program Safa Cities PBB adalah program yang juga dilakukan di berbagai belahan dunia guna menghentikan pelecehan seksual, dan tindak lainnya terhadap wanita di ruang terbuka, sehingga wanita lebih bebas bergerak.

Korowa mengatakan dengan tidak adanya pria di dalam bus, dia merasa lebih aman.

“Saya merasa lebih aman, karena tidak ada pria yang bisa mencuri atau merampas. Ini lebih aman bagi wanita yang harus ke sekolah ataupun kerja dibandingkan bus biasa.” kata Korowa.

Bus khusus perempuan ini akan tersedia sebagai bagian dari proyek PBB selama tiga tahun ke depan. – ABC/d