Monday, 26 August 2019

Irak akan Jadi Penengah Ketegangan Iran dan Arab Saudi

Rabu, 6 Januari 2016 — 18:53 WIB
Menteri Luar Negeri Ibrahim al-Jaafari

Menteri Luar Negeri Ibrahim al-Jaafari

IRAK – Baghdad mengatakan akan menjadi penengah untuk memecahkan ketegangan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi, demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Ibrahim al-Jaafari pada Rabu (6/1).

Al-Jaafari berbicara dalam konferensi bersama dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif yang disiarkan secara langsung di Iran melalui saluran televisi milik negara.

Menurut Zarif, Arab Saudi membuat ketegangan di wilayah Timur Tengah semakin meningkat sementara Teheran mencoba untuk mendinginkan situasi. “Menciptakan ketegangan bukanlah tanda kekuatan namun menunjukkan kelemahan,” kata Zarif.

Hubungan Arab Saudi dan Iran memburuk setelah pada Sabtu kemarin Arab Saudi yang didominasi Islam Sunni mengeksekusi ulama Syiah Syekh Nimr al-Nimr. Warga Iran yang didominasi oleh umat Syiah memprotes tindakan tetangganya dan sekelompok massa yang marah kemudian merusak dan membakar kedutaan besar Arab Saudi di Teheran.

Pada Minggu kemarin Arab Saudi membalas dengan mengusir semua diplomat Iran dari negaranya. Beberapa negara sekutu Arab Saudi mengambil kebijakan yang sama. Bahrain, Kuwait dan Sudan telah meminta seluruh diplomat Iran keluar dari negara mereka.

Ketegangan antara Sunni dan Syiah berawal pada abad ke-14 saat pemilihan khalifah pengganti Rasulullah.
Kini hampir 90% Muslim dunia adalah Sunni namun masih ada beberapa negara yang didominasi Syiah yang memiliki kekuatan besar seperti Iran. Pengeksekusian Syekh Nimr menjadi bensin yang membuat ketegangan semakin memanas.(daus)