Thursday, 22 February 2018

Guru Menghukum Murid Gondrong Kok Malah Disalahkan Pengadilan?

Kamis, 7 Januari 2016 — 5:15 WIB

BERAMBUT gondrong memang tak melanggar undang-undang. Tapi di sekolah, murid SD tak sepatutnya berambut gondrong bak seniman besar. Tapi sial bagi Pak Guru Aop Saepudin dari Majalengka. Mencukur muridnya SD kelas III, justru dibalas cukuran pula oleh orangtua murid. Anehnya, di Pengadilan,  Pak Guru justru dihukum percobaan 6 bulan. Untung ketika dikasasi ke MK, Aop bisa dibebaskan, bahkan gantian ayah si murid dihukum 3 bulan penjara segera masuk.

Tak pernah jelas apa penyebabnya, orang-orang yang berkecimpung di dunia seni cenderung suka berambut gondrong. Mending kalau rapi. Banyak pula yang nampak “rungkut” macam pemeran raksasa di WO Sriwedari, Solo. Banyak yang suka rambut gondrong, tapi banyak juga yang membenci orang berambut gondrong.

Mahasiswa berambut gondrong, silakan saja. Tapi murid SD berambut gondrong, pasti ditertibkan oleh Pak Guru. Setidaknya ini terjadi di SDN Penjalin Kidul V, Kec. Sumberjaya, Majalengka (Jabar). Maka pada razia kelas di bulan Maret 2012, terdapat 4 murid yang dicukur oleh guru Aop Saepudin. Murid bernama M, MR, dan AN menerima saja sanksi itu. Tapi THS dari kelas III mengadu pada orangtuanya, bla, bla, bla…

Iwan Himawan marah besar anak lelakinya dicukur acak-acakan oleh gurunya. Bersama sejumlah “becking” dia melabrak ke SDN Penjalin Kidul V. Katanya kemudian, “Kamu baru guru honorer saja mau belagu. Tak habisi kamu!” Tak panjang kata, sejumlah temannya memegangi Aop, dan Iwan Himawan membalas mencukur Pak Guru Aop.

Sama-sama tak terima baik Iwan maupun Aop lapor polisi, sehingga akhirnya berujung di Pengadilan. Keduanya divonis hukuman percobaan 6 bulan di PN Majalengka. Naik banding ke PT Bandung, hukuman Iwan dikuatkan menjadi hukuman penjara 3 bulan sedangkan Aop tetap hukuman percobaan. Mereka pun masih tidak sama puasnya, sehingga kasasi ke Mahkamah Agung.

Hasilnya, Iwan Himawan tetap dihukum 3 bulan penjara segera masuk, karena vonis hanya 3 bulan tidak bisa dikasasi. Sedangkan Aop Saepudin dibebaskan, karena menghukum murid sudah menjadi kewajiban guru untuk mendisiplinkan anak didik. Atas peradilan sesat ini, Aop Saepudin punya peluang dapat ganti rugi Rp 100 juta dari negara. – gunarso ts