Sunday, 18 November 2018

Komunitas Back Packer Jakarta (BPJ)

Liburan Ngga Harus Mahal

Jumat, 8 Januari 2016 — 14:47 WIB
bpl3

JAKARTA (Pos Kota) – Bagi setiap orang berlibur identik dengan pemborosan. Namun tidak demikian bagi anggota komunitas ini. Minimnya dana tidak mengurangi keasikan mereka untuk menjelajah tempat wisata.

Sehingga tidak heran jika komunitas yang bernama Back Packer Jakarta (BPJ) ini banyak digandrungi para pelancong yang memang menyukai tantangan. Terbukti dengan banyaknya jumlah anggota komunitas tersebut. Didirikan oleh delapan orang yang memiliki hobi yang sama, kini BPJ mengklaim telah memiliki sekitar 10 ribu anggota di seluruh Indonesia.

Ditemui poskotanews.com, beberapa waktu lalu, Edi M Yamin, Ketua BPJ, mengungkapkan asal mula berdirinya komunitas ini. “Awalnya kita buat komunitas ini dari hobi kita jalan-jalan. Akhirnya kita buat akun Facebook BPJ dengan jumlah anggota pertama hanya 8 orang,” ujar Edi.

bpj34

Namun seiring eksisnya keberadaan BPJ, jumlah keanggotaan terus bertambah dan saat ini telah mencapai 10 ribu anggota dengan jumlah anggota yang aktif sebanyak 1.500 orang. Keanggotaan komunitas ini bukan hanya berasal dari Jakarta namun juga daerah. Sepeti dari NusaTenggara Timur (NTT).
Edi mengaku tidak heran jika banyak orang tertarik dengan komunitas yang dibentuknya. Mengingat jalan-jalan adalah hal yang disukai oleh hampir setiap kalangan masyarakat

Terlebih jika itu dilakukan dengan tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup besar. Menurut Edi back packer sangatlah berbeda dengan traveling. Meski untuk sitilah perjalan dua jenis liburan ini memiliki isitilah yang sama yakni ngetrip.

“Kalau traveling kan ada tempat nginep hotel semuanya udah disiapin sama agent travel. Kalau backpaker seperti kita semuanya yang ngurus kita sendiri. Kalau untuk menyewa penginapanseperti hotel itu susah karena anggota kita banyak. Biasanya kita ngga pake hotel tapi menyewa rumah warga yang halamannya luas dan disewakan. Beberapa ada yang pasang tenda di halaman jadinya,” kata Edi yang mengaku BPJ baru resmi dibentuk pada 5 April 2013 lalu.

bpj231

PATUNGAN ANGGOTA
Diungkapkan Edi, BPJ mempunyai sistem yang unik pada setiap kali mengadakan ngetrip ke satu kawasan wisata. Para anggota secara sukarela mengumpulkan dana alias patungan. “Jadi kita kalkulasikan berapa total biaya, seperti transportasi, konsumsi, hingga tempat wisata yang akan dikunjungi, kita total lalu kita bagi per orang,” tandas Edi.

Alhasil kocek yang dikeluarkanpun tidak memberatkan untuk anggota ikut liburan. Namun dampaknya, animo anggota yang mengikuti kegiatan nge-tripun membludak. Dan Edipun harus memutar otak memutar otak agar semua anggota yang ingin ikut dapat menikmati nge-trip ala BPJ. “Setiap kita sounding untuk nge-trip selanjut baru berapa menit udah penuh, jadi kita bikin sistem part ke-1 dan part selanjutnya supaya ngga melebihkan kapasitas. Biasa kapasitas maksimal 32 orang,” ucapnya.

back

Adapun Edi menambahkan kebanyakan dari anggota komunitasnya ini merupakan pekerja. Sehingga pejalanan ngetrip diadakan saat hari libur atau dimulai akhir pekan. Sedangkan untuk anggota yang berasal dari luar pulau Jawa biasanya mereka mengambil cuti sampai satu minggu. Bermalam dahulu di Jakarta di rumah teman-teman sampe hari H jadwal perjalanan,” tegasnya.

DUTA WISATA
Bukan hanya sekedar jalan-jalan, namun Edi berdalih bahwa komunitas inipun bisa dikatakan sebagai duta wisata Indonesia terselubung. Pasalnya setiap perjalan yang dilakukan, selain mengekplor keindahan wisata, namun banyak anggota juga ikut mempromosikan lokasi-lokasi wisata tersebut melalui sarana publikasi yang ada. Utamanya melalui media sosial (medsos). Hampir seluruh lokasi wisata telah dijamah komunitas ini. Mulaid ari Pulau Jawa, Bangka Belitung, Sumatra dan Lombok dan pulau lainnya.

Baginya nge-trip bersama rekan-rekan di komunitas ini merupakan sebuah keasikan dan memiliki cerita tersendiri. Seperti halnya saat peringatan HUT BPJ ke 2. Saat itu perjalanan dilakukan ke Banyuwangi, Jawa Timur. Sebanyak 120 anggota mengikuti kegiatan tersebut. “Kemana-mana kita bareng. Ngantre beli tiket yang ngantre cuma anggota kita. Jadi yang paling ramai anggota kita. Sampai ke toilet yang ngantre cuma anggota kita,” kata Edi berseloroh.

Banyaknya anggota yang ngetrip memang menjadi tantangan tersendiri untuk Edi. Bagaimana tidak, lantaran saking banyaknya yang melakukan perjalanan dalam waktu bersamaan mau tidak mau atas dasar kebersamaan seluruh anggotapun haru smemiliki ekstra kesabaran.

“Seperti saat ngetrip ke Malang. Saat beberapa anggota BPJ ketinggalan kereta do Surabaya menuju Malang. Mau tidak mau teman-teman yang sudah berangkat duluan harus menunggu kedatangan teman yang tertinggal kereta,” tutur Edi yang mengaku banyak lagi pengalaman menarik lainnya.

Edipun menyadari dari berbagai pengalaman tersebut pada akhirnya timbul rasa kebersamaan. Namun kebersamaan tersebut seyogyanya harus dipupuk dan dipertahankan dengan berbagai kegiatan bertajuk silahturahmi. Sehingga bukan hanya berkomunikasi di akun medsos, namun berbagai kegiatanpun digelar,
“Selain ngetrip, kami sering mengadakan bakti sosial di beberapa yayasan anak yatim, hingga panti jompo. Kegiatan bakti sosial ini biasanyaa dilakukan minimal satu kali dalam dua bulan,” tukasnya.

Tidak cuma itu, kegiatan lain menumbuhakn kebersamaan juga tidak kalah pentingnya. Mulai dari kegiatan berolah raga hingga pendidikan. Yaitu badminton, futsal, renang, fotografi, jelajah masjid, buku dan bloger, English club, running. “8 kegiatan itu adalah salah satu cara untuk mempererat dan menambah solidaritas kita,” jelas Edi.

Tertarik. Nah, bagi pembaca poskotanews.com yang tertarik untuk bergabung, Edipun membuka pintu yang selebar-lebarnya untuk bergabung. Meski dikatakan Edi ada syaratnya. “Syarat untuk ikut dalam komunitas Backpacker Jakarta harus mempunyai hobi jalan-jalan, sudah mengetahui risiko seorang backpaker dan punya waktu luang untuk jalan-jalan. Dan tidak kalah penting memiliki mental, tidak usah membawa perlengkapan yang berlebihan dan memiliki rincian biaya perjalanan,” pungkasnya.(PNJ-54/ruh)