Saturday, 23 March 2019

Warga Maluku Tolak Pengolahan Blok Masela dengan Skema FLNG

Sabtu, 9 Januari 2016 — 17:05 WIB
Enggelina Pattiasina,  koordinator  ‘Solidaritas Persaudaraan Melanesia Indonesia’  dan para tokoh Maluku.

Enggelina Pattiasina, koordinator ‘Solidaritas Persaudaraan Melanesia Indonesia’ dan para tokoh Maluku.

JAKARTA (Pos Kota) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dikabarkan telah melakukan kunjungan mendadak ke Provinsi Maluku.

Dalam kujungan itu, Sudirman Said diduga akan menggelar pertemuan terbatas dengan Bupati dan pimpinan DPRD Maluku Tenggara Barat di Soumlaki, kemudian bertemu dengan Gubernur dan pimpinan DPRD Provinsi Maluku di Ambon.

Berdasarkan kabar yang beredar, pertemuan secara tertutup antara Sudirman Said dengan pimpinan daerah di Maluku terkait proyek pengembangan lapangan Abadi di Blok Masela. Kunjungan ini menjadi bagian untuk memuluskan pembangunan unit pengolahan gas Masela melalui skema terapung atau floating liquified natural gas (FLNG).

Kunjungan sang menteri tak ayal mendapat reaksi dari tokoh daerah setempat. Padahal, selama ini tokoh masyarakat Maluku begitu keras menolak pengolahan Blok Masela dengan konsep FLNG. Bahkan, Musyawarah Besar Masyarakat Maluku (Mubes Mama) pada November 2015 silam memutuskan bahwa pengelolaan Blok Migas di Maluku, termasuk Blok Masela harus dilaksanakan di darat (onshore) agar rakyat Maluku dapat menikmati secara langsung hasil pembangunannya.

“Kalau pengelolaan itu di darat, maka menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dari APBD saja tidak mungkin. Harapan kami cadangan migas yang ada,” tutur Engelina salah satu tokoh Maluku, Sabtu (9/1/2016).

Informasi kedatangan Sudirman Said ke Maluku, diakui Engelina, sudah diketahui pihaknya. Masyarakat di Maluku, dipastikan Engelina akan melakukan aksi. Sebab, pertemuan tertutup itu bisa diartikan Mereka mengartikan sebagai manuver Sudirman Said dengan Guberunur Maluku dengan anggota DPR tertentu untuk memuluskan off shore. Terlebih lagi kunjungan ini disebut-sebut difasilitasi oleh Inpex, perusahaan gas yang berkantor pusat di Jepang.

“Apabila Sudirman Said tetap bersikukuh untuk mengelola Blok Masela dengan metoda FLNG, ini sama saja sedang menabuh genderang perang dengan kami. Masyarakat Maluku akan terus melawan hingga tingkat internasional,” tegas Engelina.

Di tempat terpisah, peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Agus Priyanto berpendapat, Sudirman Said sama sekali tidak memiliki karakter sebagai pejabat publik yang pro terhadap kepentingan rakyat. Tapi, kata Agus, karakter Sudirman Said lebih mirip dengan “makelar”.

Agus kemudian mengingatkan pada persoalan Petral. Kala itu, lanjut Agus, Sudirman Said melakukan investigasi Petral di Singapura dengan menggunakan fasilitas dari Petral sendiri.

“Ini penelikungan Sudirman Said terhadap perintah Jokowi saat rapat 29 Desember 2015. Dan jika Sudirman Said juga dibiayai oleh Inpex atau Sheell, ini seperti kasus Sudirman saat dari Singapura ke Sumatera dengan pesawat carteran Petral,” ungkap Agus.

Oleh karena itu, Agus menyarankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawasi tindak tanduk Sudirman Said. Menurut Agus, bukan tidak mungkin Sudirman Said yang juga bekas petinggi di perusahaan Indika Energy ini memiliki kepentingan atas Blok Migas.

“KPK harus mulai awasi tindakan Sudirman Said ini. Jangan-jangan ini juga memiliki kaitan dengan rumor bahwa Indika Group juga punya proyek logistic base melalui anak perusahaannya Petrosea di Blok Masela,” pungkas Agus.

Sebagaimana diketahui, polemik pembangunan fasilitas pengolahan gas dari Blok Masela telah mencuat sejak 2006 hingga kini. Usulan offshore atau FLNG telah diinisiasi Inpex Corporation sejak 2009 dan telah dimasukkan dalam rencana pengembangan.

Belakangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said meminta konsultan independen untuk memberikan rekomendasi dari hasil kajian keekonomian proyek tersebut. Hasil kajian terakhir dari konsultan independen asal Amerika, Poten & Partners menunjukkan kecenderungan rekomendasi pembangunan kilang minyak dengn metode FLNG di tengah laut.

Tidak puas dengan kajian konsultan tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Sudirman mengundang manajemen Inpex Corporation untuk melakukan presentasi secara langsung atas rencana kerjanya di Blok Masela. Hasil presentasi tersebut akan menjadi pertimbangan Jokowi dalam menentukan masa depan Blok Masela.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyebut pengelolaan Blok Masela dengan metode onshore tidak hanya memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Maluku, tapi nilai investasinya jauh lebih rendah ketimbang dengan metode FLNG.

“Nilai investasi untuk Floating LNG (FLNG) sekitar US$ 19,3 miliar. Sementara untuk Land Base LNG hanya mencapai US$ 14,8 miliar-US$ 15 miliar,” ungkap Rizal.(guruh)