Saturday, 17 November 2018

Budayakan Gapatar

Sabtu, 16 Januari 2016 — 5:57 WIB

Oleh S. Saiful Rahim

KETIKA mendengar suara Dul Karung memberi salam dengan fasih seraya melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo, orang yang duduk di dekat pintu masuk segera bergeser, memberi tempat duduk untuk si Dul. Sementara itu, beberapa orang yang lain menjawab salam Dul Karung dengan suara yang tidak kalah fasih.

“Nah, kepada orang yang seperti Dul Karung ini harus kita tanamkan budaya gapatar,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang ketika si Dul mengulurkan tangan mencomot singkong goreng.

“Astaghfirullah, Bung tahu tidak apa itu Gafatar? Itu kan kelompok orang yang tidak boleh diberi kesempatan untuk tumbuh. Sudah berapa orang menteri, para tokoh terkemuka, dan orang-orang yang terkenal loyalitasnya kepada bangsa dan negara, menyatakan tidak mau ada rongrongan dari kelompok semacam Gafatar itu. Bung malah ingin membudayakan Gafatar?” sambar orang yang menggeser duduknya untuk memberi tempat kepada Dul Karung tadi.

“Eit, jangan terburu nafsu dulu, dong. Aku tidak berbicara tentang Gafatar, yang aku tidak tahu hantu macam apakah dia itu? Aku bicara dan mau membudayakan gapatar bukan Gafatar,” balas orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Gapatar yang Saudara maksud itu apa?” tanya Mas Wargo antara bingung dan heran.

“Gapatar yang saya maksud itu adalah akronim atau singkatan yang saya buat dalam Bahasa Betawi. Kepanjangannya adalah gak pake ntar. Si Dul kan kalau makan atau minum di warung ini, giliran bayar selalu bilang ntar! Lalu dia pergi dengan begitu saja. Itu sebabnya saya mengajak kita semua, terutama Dul Karung, untuk membiasakan atau membudayakan gak pake ntar. Belanja sekarang ya harus bayar sekarang juga. Gak pake ntar alias ngutang,“ jelas orang itu mengundang berbagai reaksi positif, kecuali reaksi si Dul.

Semua bereaksi dengan tertawa atau teriakan “setuju.” Kecuali Dul Karung yang hanya cemberut sehingga wajahnya lebih masam daripada biang cuka.

“Ooo maksudnya itu toh gapatar? Tadi saya mengira Bung mau menyebut Gafatar tapi menjadi gapatar, karena lidah Bung seperti kebanyakan lidah orang Sunda atau Jawa yang menyebut huruf p, f, atau v sama saja,” cetus orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang yang sejak tadi hanya menyimak omongan orang lain saja.

“Wah, itu ide bagus bukan cuma buat Mas Wargo, tetapi juga untuk saya. Karena di warung saya pun seringkali sehabis mengambil rokok atau permen, Dul Karung bilang ntar ye, sambil pergi begitu saja,” kata orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung, membuat orang-orang terpancing untuk tertawa atau sekadar senyum saja.

“Nah, bagaimana menurutkau gagasan membudayakan gapatar itu, Dul?” tanya seseorang yang entah siapa dan yang mana.

“Terserah kalianlah. Di negeri ini ada berapa banyak keputusan yang dibuat pemerintah tidak bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya. Apalagi keputusan yang cuma dibuat di warung kopi,” kata Dul Karung sambil ngeloyor meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )