Saturday, 17 November 2018

Perkenalkan Tari Tradisional Aceh di Kota Pelajar

Selasa, 19 Januari 2016 — 14:29 WIB
rampoe-1

KEANEKA ragaman budaya menjadikan Indonesia kaya. Luasnya wilayah tidak menjadi sebuah budaya daerah sirna. Pertukaran budaya melalui mahasiswa dan seiring perpindahan warga menjadikan budaya Indonesia terus tumbuh dan berkembang. Bukan hanya di lingkup sanggar seni, namun kearifan lokal tersebut juga berkembang di dunia kampus.

Salah satunya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Melalui komunitas Rampoe (dibaca: rampo) yang dibentuk sejak 28 Desember 2009 oleh beberapa mahasiswa jurusan Sastra Asia Barat angkatan 2008 dan 2009, berbagai kegiatan pertunjukan seni tari Aceh di wilayah regional, nasional, bahkan internasional telah digelar. rampoe-2

Menurut Surya Timur, pengurus Rampoe UGM, berbagai kegiatan tersebut digelar sejak komunitasnya berada di bawah naungan Departemen Minat dan Bakat Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat (IMABA) hingga menjadi sebuah Badan Semi Otonom (BSO) resmi milik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

“Keanggotan Rampoe UGM telah mencapai lebih dari 300 anggota aktif baik dari dalam kampus maupun luar kampus, diantaranya ada UII, UIN SUKA, UMY, UAD, UPN, UPY, UTY, UNY, Akper Notokusumo, dan lain-lain,” ujar Surya dalam artikel yang dikirimnya ke poskotanews.com.

Sesuai dengan namanya yang diambil dari bahasa Aceh yaitu “Rampoe” yang berarti “beraneka ragam.” Rampoe UGM mengajarkan dan menampilkan berbagai macam seni tari dan seni musik tradisional khas Aceh baik yang tradisi maupun yang kreasi seperti Tari Likok Pulo, Tari Rateb Meusekat, Tari Ratoeh Duek / Ratouh Jaroe, Tari Rapa’i Geleng, Tari Tarek Pukat, Tari Ranup Lampuan, Tari Saman Gayo, dan Tari Seudati, Sedangkan untuk alat musik tradisional ada Serune Kalee, Jinbe, Geundrang, dan Rapa’i. rampoe-3

Kesemuanya diajarkan setiap seminggu sekali di area kampus Universitas Gadjah Mada (biasanya di gedung Pelataran Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM) dan Pendopo Royal Ambarrukmo Plaza oleh pelatih dari Aceh dan oleh beberapa anggota Rampoe UGM yang telah dipilih koordinator Latihan Putra dan Putri. Latihan berlangsung sesuai tingkatan tarian dan terpisah antara putra dan putri.

Kegiatan yang ada di Rampoe UGM tidak hanya belajar dan mengajarkan kesenian Aceh di internal tim saja. Rampoe UGM juga memiliki program Rampoe Mengajar. Biasanya Rampoe UGM mengirimkan beberapa anggota untuk melatih di sanggar dan sekolah tertentu sesuai dengan undangan dan permintaan di sanggar atau sekolah tersebut.

Sedangkan, ditambahkan Surya, untuk mengakrabkan dan menjalin silaturrahmi antaranggota keluarga yang sudah mencapai tujuh angkatan, Rampoe UGM punya acara keakraban yang biasa disebut SALEUM akronim dari Silaturrahmi dan Malam Keakraban Rampoe UGM. “SALEUM digelar setiap satu tahun sekali,’ tukasnya.

Adapun untuk tahun lalu, Rampoe UGM menggelar SALEUM di dusun Tanjunggunung Desa Tanjungharjo Kulonoprogo dengan setting Pengabdian Kepada Masyarakat, Rampoe UGM berhasil menggelar Panggung Rakyat Rampoe yang menampilkan berbagai macam tarian Aceh dan berbagai kesenian dusun tersebut seperti jatilan dan campur sari. Selain itu, ada program Rampoe Mengaji dan Rampoe Mengajar kepada anak-anak dusun selama Saleum berlangsung.

SEGUDANG PRESTASI

Untuk prestasi, Rampoe UGM sudah sampai ke tingkat internasional, dimulai sejak keikutsertaannya pada Festival Colours of The World (FESCO) 2011 di Universiti Teknologi Petronas Malaysia dan meraih dua penghargaan yakni, The Best International Group Performance dan The Second Best Music Performance.

Kemudian menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan International Art Workshop di Malaysia, menjadi perwakilan Asia Tenggara pada festival tari rakyat dan festival musik di Oostrozeberk – Belgia (2013), Saint Ghislain – Belgia (2014), dan Roche La Moliere – Perancis (2014) serta meraih The Best Appreciation from Acehness Government pada Festival Ratouh Jaroe Nusantara. Semua itu dirangkum dalam program rutin Diplomasi Budaya Melalui Duta Seni Mahasiswa yang dicetuskan dan bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.rampoe-4

Masih banyak program dan kegiatan lain yang ada di Rampoe UGM seperti pagelaran seni Aceh tahunan berupa Piasan Rampoe, Street Performance untuk penggalangan dana bencana di Mall Yogyakarta 0 Km, dan Alun-alun Kidul, Bakti Sosial, Milad (Malam Penghargaan dan Syukuran Hari Jadi) Rampoe UGM, Meusapat Rampoe UGM (Penyambutan anggota keluarga baru dan pembukaan latihan rutin) serta kegiatan-kegiatan lain yang berlandaskan prinsip kekeluargaan dan berbagi yang ada di Rampoe UGM.

“Tagline We Learn, We Teach, We Dance, merupakan representasi dari kebersamaan, kesabaran, berbagi, dan kekeluargaan yang menjadi asas internal tim. Selain itu, keanggotaan di dalam Rampoe UGM bersifat seumur hidup, tidak ada senior, junior, dan alumni, yang ada hanya keluarga,” pungkas Surya.(kir/guruh)