Thursday, 20 September 2018

Suami dan Dua Anak Diduga Ikut Gafatar, Ambarini Lapor ke Komnas HAM

Rabu, 20 Januari 2016 — 23:58 WIB
Ambarini menunjukkan foto anak-anaknya yang kini menghilang bersama suami

Ambarini menunjukkan foto anak-anaknya yang kini menghilang bersama suami

DEPOK (Pos Kota) – Sekeluarga dikabarkan ikut kelompok Gafatar di kawasan Beji Kota Depok. Sang istri selain sudah melaporkan ke Polresta Depok, juga ke Komnas HAM.

Ambarini,32, mengatakan setelah mendapat kabar keberadaan pemukiman organisasi Gafatar di daerah Manpawah, Kalimantan Barat, dibakar. Dirinya merasa cemas dan bertambah khawatir tentang keberadaan suami serta kedua anaknya.

“Saya sangat khawatir bagaimana dengan nasib keluarga saya. Sebelumnya  suami bilang mau hijrah bersama anak-anak ke wilayah Kalimantan Barat, dari pemberitaan media massa pemukimannya sudah dibakar,”ujarnya kepada Pos Kota saat datang ke kediamannya, Gang Jenah,  Tanah Baru, Beji Kota Depok, Rabu (20/1)

Wanita yang bekerja sebagai SPG ini mengaku suaminya Amar als Beni,37, serta dua anaknya Muhammad Rasyid Ali,9, kelas 2 SD, dan Nur Fatimah Zahra,12, kelas 1 SMP i dilaporkan hilang pada 19 November 2015.

“Setelah ramai di media massa, orang dari Komnas HAM menelepon saya untuk melapor ke kantornya yang di wilayah Jakarta. Semoga bisa segera ditemukan keluarga saya,”ungkapnya.

Sebelum suami dan dua anaknya hilang, Ambarini mengaku tahun 2004, dirinya juga pernah masuk ke dalam ajaran Alqiayah Islamiyah dipimpin Ahmad Musadeq yang juga pimpinan dari Gafatar.

“Gara-gara perbedaan pendapat tentang aliran suami yang menyimpang, saya kerap bertengkar bahkan pisah rumah sudah 4 tahun. Dari situ suami bilang akan hijrah membawa kedua anak ke  Papua, namun sebenarnya pergi ke pemukiman kelompok gafatar di Kalbar,”paparnya.

Suaminya Beni, telah mengikuti ajaran Musadeq etahun. Suaminya tersebut menyakini sampai tidak mau keluar lantaran ajaran yang diajakan musadeq yang paling benar.

“Apa menurut saya ajaran itu tidak benar, namun buat suami saya bener. Alasan saya keluar dari ajaran tersebut karena sesat salah satunya tidak mewajibkan puasa, salat, ada iuran infaq tiap bulan jika sudah terkumpul dalam nominal yang ditentukan akan digunakan buat hijrah,”tukasnya.

Ambar hanya berharap setelah dilaporkan ke Polresta Depok serta Komnas Ham suami dan kedua anaknya dapat kembali. “Kasihan anak-anak sampai putus sekolah akibat mengikuti aliran agama yang sesat,”tutupnya.

Kapolsek Beji, Kompol Ni Gusti Ayu Supiati mengatakan keluarga Ambarini diduga ikut aliran Gafatar sebenarnya warga Jagakarsa Ragunan.

“Di Beji lokasi rumah kakaknya. Setelah ada perbedaan pendapat mereka berdua pisah rumah dan Ambarini tinggal di rumah kakak,” ungkapnya kepada Pos Kota saat meninjau kediaman Ambarini di Beji.

Mantan Kanit PPA Polresta Depok ini mengaku akan menggiatkan peran bhabinkamtibmas di lingkungan untuk mendata aliran agama seperti Gafatar.

“Dari peristiwa ini setiap anggota bhabinkamtibmas wajib mendata pendatang baru antisipasi aksi teror dan jaringan teroris,”tutupnya. (Angga)