Sunday, 15 September 2019

Ditinggal Kerja ke Kendari, Istri Dikerjai Tetangga Sendiri

Kamis, 21 Januari 2016 — 5:29 WIB

HARIS, 40, cari kerja sampai Kendari, karena ingin mengubah nasib. Tapi alangkah malangnya nasib, di rumah istri justru dikerjai tetangga sendiri. Haris baru tahu ketika pulang kampung, Wati, 35, justru tidur di gubug bersama lelaki lain. “Aku sering diberi uang, lama-lama diminta goyang,” kata istri Haris jujur sekali.

Kehidupan di kampung sendiri, sering tidak menjanjikan apa-apa. Maka banyak orang memilih urbanisasi, untuk memimpikan masa depan yang lebih baik. Bayang yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal. Yang berhasil bisa jadi pejabat, yang gagal banyak yang terjerumus jadi penjahat. Lalu salah siapa semua ini?

Haris warga Andoolo, Konawe Selatan, Kendari, bosan hidup jadi orang miskin. Ijazah SMA miliknya tak laku buat cari kerja, sehingga dia jadi pekerja serabutan di kampungnya. Tapi itu tak bisa untuk menjaga stabilitas dapur, sehingga dia bermaksud mencari pekerjaan baru di Kendari. “Aku sebulan sekali pasti pulang, sayang.” Ujar Haris saat hendak pamitan pada keluarga.

Di kota Kendari sama saja, ijazah SMA-nya tak bisa menolong, sehingga dia tetap bertahan di profesi lamanya, jadi buruh pekerja kasar. Setahun kerja Haris mampu mengontrak rumah sendiri, sehingga dia ingin mengajak Watik bergabung di Kendari. Tapi ternyata istri menolak, karena katanya lebih nyaman di kampung.

Ternyata penolakan itu ada motif lain, karena dia sudah kesengsem dengan Puji, 38, lelaki tetangga sendiri. Jadi kasarnya, ketika suami kerja banting tulang di kota, Wati di kampung justru “banting-bantingan” dengan lelaki lain yang sebetulnya telah jadi suami orang. Prinsip Wati, hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di kampung sendiri. Lalu bagaimana jika kelilipan batu segede kepala gajah?

Bagaimana Wati tidak lengket seperti permen karet. Karena Puji suka memberikn uang disaat yang tepat. Di kala dia tak punya uang, Puji muncul sebagai dewa penolong. Katanya, “Tak usah mikir dikembalikan, ini sekedar untuk jajan anak.” Bukankah agama selalu mengajarkan, jangan bermewah-mewah ketika ketangga masih kelaparan.

Padahal, dia dunia ini memang tak ada yang gratis, sekedar kencing saja pasti bayar Rp 2.000,- Maka Puji yang memang bukan Kantor Sosial, dia minta imbalan khusus dari sifat kedermawanannya itu. Kasarnya, uang harus dibayar dengan goyang. Karena merasa telah berutang budi, Watik tak bisa menolak ketika harus bayar dengan bodi.

Ternyata berbagi cinta bersama suami tetangga itu: uenak tenan! Dia jadi ketagihan, sehingga ketika diajak ikut suami Kendari, Wati tetap menolak. Dan karena sudah ada Puji, ketika suami pulang kampung dalam rangka “setor bonggol” dan benggol, melayaninya tidak semangat lagi. Istilah kata, hanya formalitas belaka, sekedar untuk membunuh rasa dingin.

Lama-lama Haris jadi curiga, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Maka ketika pulang kampung beberapa hari lalu, sengaja dia tidak memberitahukan sebelumnya. Hasulnya, Wati – Puji didapatkan tidur seranjang di dalam gubug di tengah kebon. Adapun Puji, begitu tahu aktivitasnya bersama Wati ketahuan, langsung melarikan diri.

Istri dalam pemeriksaan pamong desa mengakui, sudah tak terhitung melayani hubungan intim Puji. Kasus ini diteruskan ke Polres Ponawe Selatan. Sedangkan Haris, kini juga bertekad menceraikan istrinya. Jika nantinya diover garap oleh Puji, dia sudah merelakannya.

Tinggal cabut berkas dan balik nama ke Polda, ya Mas? (JPNN/Gunarso TS)