Wednesday, 14 November 2018

Ketika Bang Jalil Mengigau

Sabtu, 23 Januari 2016 — 5:44 WIB

BANG JALIL mencoba menahan amarah dengan bersabar, menahan lapar dengan puasa, menahan serakah dengan tidak rebutan warisan, dan menahan diri dari berbagai gemerlapnya dunia.

“ Dunia itu hanya sebagai tempat mampir, Pak. Di sini hanya sementara. Yang lamanya ya disono noh, di akhirat!” ujar sang istri, seperti ustazah yang lagi memberi ceramah.

“ Kata-kata Ibu bijak banget, dapat dari mana?” puji Bang Jalil sambil menyeruput kopi yang masih panas.

“ Ibu kan ngaji,Pak,” ujar sang istri sambil berbenah di dapur.

Bang Jalil manggut-manggut. Istrinya memang rajin banget mengikuti pengajian ibu-ibu di masjid dekat rumahnya.

“Tadi Bapak ngigau apa beneran sih mau dapat warisan?” ujar sang istri tiba-tiba.

“ Oh, ngigau kali Bu. Lagian warisan dari mana? Kan kita udah tau, kalau orang tua kita hidupnya dulu pas-pasan?” ujar Bang Jalil.

“ Lho, siapa tau ada warisan darimana,  gitu?”

“ O, ada. Ibu tau nggak kalau negara kita punya utang ribuan triliun?”

“ Terus kita dapat warisan apa?”

“ Ya, warisan utang!” ujar Bang Jalil. Dan sang suami pun berdakwah, khusus buat sang istri.” Bu, negeri kita ini kaya raya, darat dan lautnya menyimpan harta karun yang melimpah. Kalau saja para pejabat dan petinggi negeri ini mampu mengelola dengan baik, jujur adil, bijaksana, dan nggak pada korup kita ini berlebihan.”

“ Ya, rakyatnya juga jangan malas, Pak!” ujar sang istri,” Jangan juga ikut-ikutan organisasi yang nggak jelas!”

“ Hemm, Ibu makin pinter…” puji Bang Jalil lagi.

“ Lebih pinter lagi, kalau hari ini dikasih uang belanja lebih,” ujar sang istri.

Bang Jalil, masih sepakat dengan niatnya, untuk bersabar. Ya,terutama sabar pada sang istri ketika tiba-tiba minta uang belanja lebih.  –massoes