Thursday, 20 September 2018

Si Kumbang Tenabang

Mengawal Budaya Betawi di Tengah Era Modernisasi

Sabtu, 30 Januari 2016 — 16:23 WIB
logo-Si-Kumbang-Tenabang

PESATNYA pembangunan dan roda modernisasi yang berkembang di Jakarta tidak menjadikan sekelompok orang ini lupa akan budayanya. Kearifan lokal yang disadari benar oleh mereka menjadi budaya ini terjaga hingga kini. Salah satunya pencak silat.

Tergabung dalam wadah Si Kumbang Tenabang, berbagai perguruan gerak tubuh bela diri ini bersepakat untuk menjaga pelestarian pencak silat dan budaya Betawi lainnya. Alhasil sejak berdiri pada sejak lima tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 9 April 2011, Si Kumbang Tenabang berhasil mengawal keberadaan budaya tersebut.

Perkembangan yang begitu pesat, khususnya di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat tidak menjadikan budaya ini sirna termakan oleh zaman. Menurut Ketua Si Kumbang Tenabang, Roni Adi, Si Kumbang Tenabang adalah perkumpulan beberapa perguruan pencak silat yang berada i Tanah Abang. Berdasarkan satu pemikiran ketua atau guru-guru dari masing-masing perguruan yang menilai diperlukannya wadah untuk menyatukan berbagai perguruan yang ada.
“Kita terbentuk ini awalnya dari tetua-tetua masing-masing perguruan silat di kawasan Tanah Abang. Bersatu dengan tujuan pelestarian budaya Betawi itu sendiri, ” ujar Roni kepada poskotanews.com, beberapa waktu lalu.

Di kawasan Tanah Abang sendiri diungkapkan Roni terdapat sedikitnya terdapat 20 perguruan pencak silat. Dari puluhan perguruan silat ini, masing-masing terdapat berbeda aliran. Setidaknya untuk kawasan Tanah Abang terdapat lima aliran besar dalam pencak silat. Diantarantya, aliran Silat Sabeni, alirsan Silat Rahmat, dan aliran Silat Jingkrik. Roni yang juga bekerja sebagai dosen STIE Kalpataru, menjelaskan nama Sabeni dan Rahmat merupakan sosok jawara asli dari Tanah Abang

Bukan hanya pencak silat, budaya Betawi yang dijaga pelestariannya oleh Si Kumbang Tenabang adalah lenong dan palang pintu. Kesenian palang pintu kegiatan yang di pertunjukan saat kegiatan seperti pernikahan dan sunatan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pertunjukan musik khas Betawi, pantun, dan silat. “Palang Pintu juga kita lestarikan, karena bagian dari budaya Betawi, ini untuk menyambut acara lamaran,” tegas Roni.

Meski berlabel perkumpulan perguruan silat, namun Roni menolak jika komunitas yang dipimpinnya dijadikan hanya untuk tampil jago-jagoan. Pasalnya tujuan utama dibentuknya Si Kumbang Tenabang untuk mempersatukan anak remaja sampai dengan yang tua.Setidaknya sebagai sarana silahturahmi. Sehingga potensi resistensi sosial dapat diminimalisir di kawasan Tanah Abang.
si-Kumbang-Tenabang-2

Jalinan silahturahmi ini bukan hanya dibangun di sekitar kawasan Tanah Abang. Namun mencakup wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek). Di mana di wilayah mitra ibukota tersebut juga terdapat beberapa perguruan silat. Caranya dengan menggelar kegiatan silat bersama. “Rencananya kita akan buat di saat berlangsungnya hari bebas kendaraan bermotor atau car free day. Setidaknya minimal satu bulan sekali kita gelar kegiatan silat bareng dengan perguruan yang ada di wilayah Bodetabek,” kata Roni.

Selain itu Si Kumbang Tenabang juga melestarikan kesenian Lenong yang dipimpin oleh Jumala Ridwan. “Sejak tahun 1980-an saya sudah bergelut dengan kesenian Lenong,” tukas Jumala.
Dikatakan Jumala untuk pelestarian Lenong dibutuhkan sebuah strategi agar budaya ini tetap di terima oleh masyarakat saat ini. Salah satunya dengam memberikan materi yang memang menjadi topik hangat saat ini. Sehingga penonton tidak merasa bosan. “Lenong sekarang harus berkonsep modern namun tidak meninggalkan nilai-nilai budaya itu sendiri,” ucap Jumala.

Bukan hanya dalam hal budaya, eksistensi Si Kumbang Tenabang juga dilakukan hal berbagi dengan sesama. Secara rutin paguyuban ini mengelar bakti sosial. Secara swadaya, seluruh anggota mengumpulkan dana untuk selanjutnya diserahkan kepada yang membutuhkan. Utamanya saat terjadi bencana. “Seperti kebakaran yang terjadi di Karet waktu jaman kampanye. Kami ikut turun tangan, memberi sumbangan dengan cara patung an dari anak-anak Si Kumbang,” tandas Roni.
si-Kumbang-Tenabang-5

Lebih lanjut, Roni menambahkan derasnya arus globalisasi merupakan sebuah tantangan bagi pelestarian setiap budaya lokal. Arus modernisasi yang terbendung menjadikan banyak budaya yang mati suri. Karenanya Roni menilai dibutuhkan sebuah langkah dinamis dari pengembangan budaya sehingga mampu mengikuti perkembangan itu sendiri.
Karenanya jangan heran, meski berlabel budaya berbaga pemikiran telah dikembangkan para pemimpin Si Kumbang Tenabang. “Pada tanggal 30-31 Januari 2016 Si Kumbang Tenabang akan merencanakan rapat kerja di Puncak, Bogor, Jawa Barat rencananya rapat kerja kali ini akan membahasa mengenai MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Jakarta ini kampung kita. Dan budaya Betawi harus jadi tuan rumah di sini jadi harus siap,” tegas Roni.
si-kUmbang-3
Si Kumbang Tenabang sendiri dikatakan Roni sangat terbuka bagi warga yang memang memiliki ketertarikan terhadap budaya Betawi ini. Karenanya untuk yang berminat Roni mengatakan silahkan datang ke Balai Latihan Kesenian di Tanah Abang, Jakarta Pusat atau langsung ke sekretariat Si Kumbang di Jalan Sabeni No.1 Rw 12 Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. “Bisa juga mengunjungi langsung ke Facebook resmi dengan menulis di kolom pencarian “Sikumbang Tenabang,” pungkasnya.(PNJ-54/ruh)