Thursday, 15 November 2018

Berkeluarga Hampir 4 Periode Ternyata Suami Memiliki WIL

Senin, 1 Februari 2016 — 5:57 WIB

ISTRI cap apa yang takkan terluka, melihat suami bugil di ranjang bersama wanita lain? Tapi penderitaan Ny. Hidayah, 35, lebih dari itu. Dia dipukuli suami di depan WIL dan anak lelakinya. Kontan istri Kamaludin, 40, ini mengadu ke Polres. “Kami nikah sudah 18 tahun Pak, ternyata suami punya WIL,” ujarnya.

Suami yang punya WIL, sama saja membiarkan istri menderita penyakit liver gara-gara hati yang luka. Kalau hatinya yang luka Betharia Sonata obatnya cukup dikembalikan ke rumah orangtua sambil diuwo-uwoooo, selesai. Lha kalau “liver”-nya orang kebanyakan? Apa harus dikembalikan ke orangtuanya? Ya kalau masih ada orangtua, kalau tidak? Bisa-bisa malah daftar ikut Gafatar.

Penderita “liver” terbaru ini adalah Ny. Hidayah, warga  Mariolo, Makasar. Rumahtangganya di ambang kehancuran gara-gara suami punya WIL. Paling menyakitkan adalah, Hidayah harus melihat sendiri dengan mata kepala sendiri, bagaimana suaminya bergulat di ranjang bersama Mariah, 24, di rumah kos-kosan. “Sakitnya sampai di sini,” kata Ny. Hidayah.

Kamaludin membina rumahtangga dengan Hidayah sudah hampir 4 priode (18 tahun), di mana dulu lewat pemilihan langsung, artinya sama-sama cinta, bukan karena dijodohkan. Tapi ironisnya, meski sudah punya istri Hidayah, rupanya Kamaluddin belum mendapat hidayah dari Allah Swt. Buktinya, masih ada pemikiran macem-macem, pengin istri lebih dari satu. Padahal di manapun, perempuan itu tak ubahnya kue biscuit Kong Guan, bentuk boleh macam-macam, tapi rasanya sama saja.

Sejak beberapa bulan lalu dia punya WIL, namanya Mariah. Karena lebih muda, jelas lebih kenceng dan bodi lebih menjanjikan. Untuk dinikahi secara resmi alias poligami, Kamaludin tidak berani. Seban PNS kan tidak boleh kawin lagi.

Karena tak mungkin poligami, Mariah dipelihara sebagai WIL saja, yang bisa juga diartikan: kalau perlu baru “dijawil”. Tapi sebagai PNS yang tugasnya tidak di tempat basah, akhirnya Kamaludin terjebak pada ungkapan: kuat di onderdil tak didukung materil. Akibatnya, banyak anggaran di rumah yang terpaksa “diswitch” untuk membiayai WIL-nya tersebut.

Di sinilah mulai terendus. Ny. Hidayah sebagai pihak pengguna anggaran lama-lama curiga, di mana gaji suami kok tak pernah utuh lagi. Bahkan hampir 40 persen, tidak jelas penggunaannya. Mau panggil akuntan publik? Jumlah gaji sama honor akuntannya saja sudah tidak ketemu. Walhasil Hidayah hanya bisa membatin, jangan-jangan suamiku punya WIL.

Kecurigaan itu membawa hasil, sebab ada info bahwa suaminya sering mangkal di daerah Panakukang, di rumah kos-kosan. Diam-diam dia mulai memata-matai suami sendiri. Akhirnya beberapa hari lalu dia nekad mendatangi rumah kos-kosan itu sambil ditemani anak lelakinya yang sudah duduk di kelas V SD. Paling menyakitkan, dia memergoki suaminya sedang menyetubuhi WIL-nya tersebut di siang bolong, kayak film matinee show saja.

Tak terima kenikmatannya terganggu, belum juga Hidayah sempat ngomong langsung ditempeleng di depan WIL dan anak lelakinya. Dalam kondisi babak belur Ny. Hidayah mengadu ke Polres Panakukang. Dia tak terima diperlakukan sekasar itu. “Masak saya dipukuli di depan anak sendiri,” ujar Ny. Hidayah.

Karena suami sedang cari enak, sih. (JPNN/Gunarso TS)