Saturday, 20 July 2019

GONG XI FA CHAI

Kamis, 4 Februari 2016 — 5:37 WIB

Oleh Harmoko

BEBERAPA hari lagi, tepatnya 8 Februari 2016, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2567. Lebih dari sekadar perayaan, Imlek sejatinya memiliki makna filosofi yang dalam.

Di Indonesia, perayaan Imlek dilakukan dengan berbagai cara. Ada pentas seni barongsai, pertunjukan opera, festival kelenteng, dan sebagainya, termasuk diskon belanja di pusat-pusat perbelanjaan. Acara-acara di televisi tampil dengan nuansa Tionghoa.

Di balik tradisi hura-hura itu, sebagaimana perayaan hari besar lain, ada pesan spiritual tentang semangat hidup dan kesediaan berbagi. Perayaan Imlek merupakan ekspresi rasa syukur atas rezeki yang didapatkan selama setahun dan membangun semangat untuk menjalani kehidupan pada tahun berikutnya.

Kalau kita tilik sejarahnya, lebih dari 4.000 tahun silam, Imlek merupakan perayaan kaum petani, perayaan menyambut musim semi yang disebut Chun Jie. Pada awalnya, berdasarkan perputaran bintang Jupiter, kira-kira tahun 2100 SM rakyat Tiongkok menyebut suatu musim yang mereka sebut Sui, yakni masa perputaran satu tahun. Kemudian, tahun 1000 SM mereka menyebut awal perputaran bintang Jupiter dengan istilah Nian yang berarti panen.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi perayaan menyambut panen itu pun berubah, mengikuti pengalaman kehidupan yang juga terus berubah. Imlek tak saja dirayakan kaum petani. Perubahan itu tak harus menanggalkan pesan spiritualnya, yakni perayaan manusia yang menyatu dengan alam sekitar. Di sana ada cinta kasih yang sangat universal pada alam dan lingkungan.

Perayaan Imlek juga sebuah ungkapan rasa syukur atas rezeki yang didapatkan selama setahun, sambil terus membangun semangat baru untuk menapaki kehidupan pada tahun berikutnya. Pemberian angpau, misalnya, merupakan ungkapan simbolik tentang rasa syukur dari para orangtua kepada anak-anaknya, dari mereka yang mampu kepada yang tak mampu.

Pesan moral seperti itu selaras dengan realita kebhinnekatunggalikaan masyarakat Indonesia. Masyarakat Tionghoa telah memberi warna dalam keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, menyatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek. Sebagaimana kita ketahui, menurut budaya Tionghoa, tahun ini merupakan Tahun Monyet Api. Mudah-mudahan monyet dan api membawa keselamatan dan kesejahteraan. Gong Xi Fa Chai! ( * )