Friday, 21 September 2018

Melongok Pasar Lama Kota Tangerang Jelang Imlek

Jumat, 5 Februari 2016 — 13:51 WIB
Suasana di Pasar Lama, Kota Tangerang

Suasana di Pasar Lama, Kota Tangerang

JELANG Tahun Baru Cina atau Imlek, Kesibukan dalam menyambut Imlek di Kawasan Pasar lama langsung terasa ketika gerobak pedagang kaki lima yang berjajar. Warna merah bercampur kuning emas mulai menghiasai pasar tradisional tertua di Kota Tangerang tersebut. Di atas gerobak, para pedagang menjajakan Lampion dan segala pernak-pernik aksesoris warga Tionghoa.

Warga Cina Benteng (Ciben) pun berdatangan untuk membeli segala kebutuhan untuk menyambut Imlek. Tak hanya berbelanja, di kawasan tersebut, warga Tionghoa bisa bernostalgia, sembahyang, dan sekaligus berkunjung ke Kelenteng Boen Tek Bio yang berada dalam pasar tersebut.

Momen Imlek digunakan para pedagang untuk meraup keuntungan yang berlipat. Untuk harga lampion misalnya, penjual mematok harga mulai dari Rp 75 ribu sampai Rp 150. ribu per buah. Harga lilin bervariasi sesuai ukuran, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 200 ribu. Untuk angpao (amplop), dijual seharga Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. Sementara harga cheng sam China (pakaian khas Imlek) bervariasi mulai dari Rp 75. ribu.

”Setiap kali menjelang Imlek, pasti pernak-pernik seperti ini akan laku keras. Permintaan sangat banyak, naik hingga 100 persen dari hari biasa,” kata Budi pedagang kaki lima di Pasar Lama.

Tak hanya menjual aneka pernak-pernik Imlek, Budi juga menjual beragam makanan khas warga Tionghoa seperti dodol dan kue keranjang juga membanjiri Pasar Lama, Kota Tangerang. Biasanya, buah-buahan, kue keranjang, dan dodol digunakan warga Cina Benteng pada saat sembahyang.

”Cuman setahun sekali. Namanya pedagang, kita jual apa saja. Kalau lagi menjelang Imlek, dagangan ini banyak diminati pembeli,” kata Budi.

SEJARAH

Sejarah Cina Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama yang berada di tepian sungai Cisaden. Di pasar tradisional itu sejumlah bangunan kuno khas Pecinan menghisasi sepanjang Jalan Kisamaun, Kota Tangerang. Di tempat tersebutlah cikal-bakal pertumbuhan Kota Tangerang.

Warga Tionghoa di Kota Tangerang kerap disebut sebagai Cina Benteng (Ciben) Makasar. Sebutan itu muncul karena masyarakat Tionghoa bermukim tak jauh dari Benteng Makasar. Meski benteng yang di bangun pada zaman Belanda itu telah diratakan, warga Tionghoa yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai Cina Benteng.

Pasar Lama Kota Tangerang 1Kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang yang merupakan tonggak sejarah warga Tionghoa di Kota Tangerang

Menurut Oey Tjin Eng,60, warga Ciben telah bermukim di Tangerang sejak 1407. Kala itu, perahu yang membawa 9 gadis cantik pimpinan Cen Cin Lung terdampar di daerah Teluknaga. Seorang pengusaha dari Kerajaan Pajajaran beserta prajuritnya kemudian dipersunting para gadis cantik tersebut. Akibat perkawinan itu yang merupakan cikal-bakal peranakan Cina di Batavia.

“Para Ahli-ahli, seperti ahli perkebunan, Irigasi dan lain-lain akhirnya di datangkan. Pernikahan silang antara orang Cina dengan penduduk setempat banyak terjadi saat itu,” kata Oey Tjin, sejarawan Klenteng Boen Tek Bio.

Pada tahun 1740, Gubernur Jenderal Valkenier memerintahkan prajuritnya untuk menangkap warga Tionghoa karena dituding melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Sejak saat itu banyak orang Cina yang kurang mampu mengungsi mencari tempat baru ke daerah Tangerang. Warga Cina Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan dan pedagang.

Hal unik dari masyarakat Cina Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Meski demikian, masyarakat Cina Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun.

KELENTENG TERTUA

Pada malam Imlek biasanya warga Cina Benteng mendatangi kelenteng untuk melaksanakan sembayang. Dua Kelenteng yakni Boen Tek Bio dan Boen San Bio (Nimmala) berada di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Kedua kelenteng tersebut merupakan saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang .

warga Cina Benteng kemudian mendirikan kelenteng Boen Tek Bio. Klenteng tertua di Tangerang itu di dirikan tahun 1684. Di susul kelenteng Boen San Bio (Nimmala) yang dibangun 5 tahun kemudian. Selain tempat sembayang, kelenteng juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya komunitas Tionghoa di Tangerang.

Kelenteng Boen Tek BioSuasana di Kelenteng Boen Tek Bio Jelang Imlek

Sebagai orang yang dikenal kental dengan fengsui dalam mendirikan sebuah bangunan, orang Tionghoa kerap mengkaji letak bangunan yang dianggap mempunyai pengaruh baik atau buruk pada manusia di sekitarnya. Beberapa aspek yang kerap menjadi perhatian bagi mereka adalah gunung dan laut. Hal itu karena gunung merupakan sumber air yang mengalirkan sungai-sungai, sedangkan laut adalah berkah karena kumpulan urat-urat naga.

“Salah satu hal terrsebut mengapa kelenteng ini dibangun tak jauh dari sungai Cisadane yang berhulu di Gunung Salak-Pangrango.” Kata Oey Tjin.

Bila diperhatikan, ketiga kelenteng ini tertaut dalam satu garis lurus sepanjang 16 kilometer. Tak jauh dari ketiga kelenteng tersebut terdapat sungai Cisadane. Sungai kebanggaan warga Kota Tangerang itu diyakini mempengarui pembangunan ketiga kelenteng tersebut. Bagi masyarakat Tionghoa sungai diibaratkan urat naga. Menurutnya, semakin banyak urat naga maka semakin baik untuk pemukiman.

“Ketiga kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam,” ungkap Oey.
(imam/sir)