Wednesday, 21 November 2018

Tradisi Gotong Royong Kian Hilang di Masyarakat

Sabtu, 6 Februari 2016 — 17:22 WIB
diskusi panel serial kebudayaan bertema membangun budaya dan nilai keindonesiaan demi masa depan bangsa. (inung)

diskusi panel serial kebudayaan bertema membangun budaya dan nilai keindonesiaan demi masa depan bangsa. (inung)

JAKARTA (Pos Kota) – Tradisi gotong royong yang menjadi ciri khas Indonesia, dalam praktiknya kian hari kian hilang di tengah masyarakat.

Bukan hanya masyarakat, namun nilai-nilai yang terkandung dalam gotong royomg semakin menjauh diantara penyelenggaraan negara.

Padahal gotong royong sesungguhnya bukan sekedar mencakup kegiatan sosiologis dan sikap etis dalam masyarakat. Tetapi juga mempunyai aspek ideologis. Sehingga semestinya nilai gotong royong terus melekat dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara selama Indonesia masih berdiri sebagai sebuah negara.

“Kita semua risau melihat bahwa nilai gotong royong semakin menjauh dan tidak lagi diperhatikan,” kata Ketua Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti Pontjo Sutowo dalam diskusi panel serial YSNB ke-7 bertema membangun budaya dan nilai keindonesiaan demi masa depan bangsa, Sabtu (6/2/2016).

Melemahnya nilai gotong royong ini terjadi karena dihampir semua bidang saat ini diresapi oleh semangat jual beli dipasar. Dimana segalanya diukur dengan harga dan dipasangi tarif baik resmi maupun tak resmi. “Kondisi ini membuat rakyat yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan tawar dalam tatanan dunia berbasis pasar semakin menderita,” lanjutnya.

Pontjo mengingatkan bahwa rasio gini yakni suatu indikator dari kesenjangan sosial ekonomi yang saat ini mencapai 0,43 adalah angka yang sangat berbahaya. Bahkan dalam bidang politik dan keamanan sebagai kondisi lampu kuning yang bisa menjadi pemicu munculnya krisis ekonomi, krisis politik dan krisis keamanan.

Karena itu mengembalikan nilai gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi solusi yang harus kita lakukan saat ini. Baik gotong royong dalam arti sosiologis, sikap etis masyarakat maupun aspek ideologis suatu bangsa.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan nilai gotong royong antara lain sulitnya berkoordinasi antar sesama penyelenggara negara dan mudahnya terjadi perpecahan dalam partai politik, sudah saatnya direvolusi.

Senada dengan itu sosiolog UI Prof Sarlito Wirawan mengatakan untuk mengembalikan nilai gotong royong, konsep revolusi mental adalah langkah yang paling tepat dilakukan oleh pemerintah. Revolusi mental tersebut tidak hanya dikalangan penyelenggara negara atau birokrat tetapi juga masyarakat luas.

“Revolusi mental sedang kita lakukan. Para pemimpin juga tengah berusaha untuk diubah mentalnya. Karena perubahan pada masyarakat akan terjadi dengan baik jika pemimpinnya sudah berubah memperbaiki diri. Jadi memang harus dimulai dari para pemimpinnya,” pungkas Sarlito. (inung/ruh)

  • kecebong

    sekarang mah gotong royong ndak laku. yang laku relawan.