Wednesday, 19 September 2018

Poligami Cuma Cari Enak Bini Ribut Malah Ngumpet

Senin, 15 Februari 2016 — 5:15 WIB

ELNASO, 40, dari Pinrang (Sulsel) ini memang lelaki ayam sayur. Berani punya dua istri, tapi hanya mau enaknya doang. Istri tua dan istri muda berantem pakai golok, malah ngumpet dalam rumah. Lagaknya seperti presiden saja: tak mau intervensi. Padahal istri tua sampai sobek kepalanya kena lemparan parang.

Banyak orang salah interpretasi, poligami dianggapnya sebuah kewajiban. Padahal itu sifatnya hanya darurat, jika mampu, kalau tidak jangan memaksakan diri. Sebab surat Anisa ayat 3 menyebutkan: nikahilah perempuan satu sampai empat jika mampu, kalau tidak mampu cukup satu saja. Sebab arti mampu itu sangat luas, bukan saja mampu onderdil, tapi juga materil dan moril.

Agaknya Elnaso dari Suppa, Pinrang, termasuk lelaki yang memahami salah tentang poligami. Istri satu saja hidupnya empot-empotan, eh gaya-gayaan berbini dua. Satu Samsiah, 35, dengan menghasiknan 2 anak, dan satunya lagi Nila, 24, dengan satu anak. Rumahtangga baru 5 tahun langsung punya anak tiga, dari dua ibu.

Awalnya memang enak punya dua istri itu, “si jendul” selalu terjamin, karena selalu ada alternative. Nilai positip lainnya, badan Elnaso menjadi lebih bersih, karena rajin mandi wajib. Cuma pinggang yang nyaris putus, karena divorsis untuk membahagiakan istri. Orang Jawa bilang: kodok kalung kupat, awak boyok sing gak kuwat.

Lama-lama Elnaso memang tidak kuat, tapi bukan dari sisi jaminan batin. Yang memberatkan justru dari sisi ekonomi, sebab poligami itu termasuk proyek padat modal, bukan sekedar memanjakan alat vital. Bini tua minta ini, bini muda juga minta itu, saling iri dan irian. Akhirnya Elnaso hanya kuat di entong tapi jebol di kantong.

Akhirnya, salah satu bininya terpaksa di-PHK. Dengan alasan bini tua bisa lebih mandiri, Samsiah dicerai dan Nila yang dipertahankan. Padahal aslinya, bini kedua jauh lebih muda. Ibarat mobil lebih nyaman dikendarai, dan belum waktunya ganti matahari termasuk kampas rem.

Tapi rupanya Ny. Nila masih mencurigai mantan madunya itu. Keduanya masih ribut dengan alasan ketidak-terbukaan anggaran. Namun demikian Elnaso tak mau melerai, dengan alasan tidak mau intervensi. Gayanya mau niru Presiden Jokowi, tapi Elnaso tak pernah blusukan.
Beberapa hari lalu Nila datang ke rumah Hj Samsiah sambil teriak-teriak, padahal yang dicari tidak ada. Ketika Samsiah pulang diberi tahu tetangga bahwa tadi bekas marunya marah-marah. Tak terima ada tamu tak tahu etika dan sopan santun, segera Hj Samsiah mencari bekas madunya itu.

“He, tadi kamu ke rumah sambil teriak-teriak mau apa?” sergah  Samsiah ketus. Nila yang sedang membersihkan halaman dengan bawa parang juga menjawab sangar, “Kalau saya teriak-teriak, memangnya kenapa?” Nah, karena sama-sama keras, akhinya mereka berantem. Samsiah melempar batu dan dibalas dengan lemparan parang. Apes rupanya bagi bekas bini tua itu, ujung parang itu langsung mengenai kepala Samsiah hingga sobek.

Sementara Samsiah dilarikan ke rumahsakit, Elnaso ternyata ada di dalam rumah., Saat kedua istrinya berantem, dia juga tahu, tapi malah pilih sembunyi. Sebab takut dituduh membela istri muda. Benar-benar lelaki ayam sayur.

Elnaso layak digaremi dan diberi mrica, lalu direbus? (JPNN/Gunarso TS)