Wednesday, 14 November 2018

Bang Jalil, Kopi dan Melamun

Senin, 22 Februari 2016 — 5:36 WIB

BANG JALIL duduk di teras rumahnya yang dempet dengan gang. Kayaknya dia melamun. Sampai dia tak sadar istrinya menaruh kopi di meja yang ada di depannya.

“ Bapak nggak usah ikut mikirin gaduh di Kalijodo. Kan Bapak nggak punya kepentingan apa-apa di sana kan?” ujar sang istri yang cukup mengejutkan dan sekaligus membangunkan Bang Jalil dari lamunnnya.

Bang Jalil menguap dan menyeruput kopi yang masih ngebul. Seruputtt!

“ Nikmat kopinya,” puji Bang Jalil sambil melirik sang istri.

“ Bapak nggak punya kentingan di sono kan?” tanya sang istri lagi.

“ Maksud ibu apa?” datar suara Bang Jalil.

“ Sering ke sono, ke Kalijodo?”

“ Ibu bercanda, ya?”

“ Bukan begitu Pak. sebagai seorang istri, Ibu kan boleh dong curiga? Kan aku denger tuh yang namanya tempat hiburan di situ ada wanita penghibur, ada perjudian, ada miras. Nah, kalau Bapak ikut-ikutan kan bisa berabe. Gaji nggak seberapa bisa ludes! Bapak bisa stres. Kan Ibu juga yang repot!” ujar sang istri.

Bang Jalil masih diam ketika istrinya bicara lagi,” Bapak tau nggak, akibat stres orang bisa darah tinggi, bisa, stroke, jantungan. Akibatnya kalau nggak mati ya gila. Gawat kan? Tuh,  pejabat yang ke geser jabatannya pada jantungan, terus meninggal!”

Bang Jalil tidak ingin istrinya ngoceh terus, karena ini juga bisa stres. Dari pada nanti panjang lebar  lebih baik dia buru-buru kasih amplop gaji. “ Sono belanja, masak yang enak!”

Sang istri menerima dengan cepat, tapi dia masih mengancam;” Awas ya, kalau masih mikirin Kalijodo!?”

Bang Jalil hanya tersenyum, tak mau berdebat  soal-soal begituan. Cape. Denger orang pada ribut aja dia sudah mumet!

Setelah istrinya pergi ke warung, Bang Jalil melamun lagi. Ya, apa boleh buat, hanya itu yang  bisa dilakukan. Melamun!   –massoes