Monday, 19 November 2018

Bini Orang Nekat Disosor padahal Teman Sekantor

Selasa, 23 Februari 2016 — 5:23 WIB

DALAM urusan selangkangan, orang mengejar kenikmatan sering melupakan persahabatan. Contohnya Rofan, 50, dari Indragiri Hilir (Riau) ini. Sudah tahu Yunita, 32, itu istri temannya sekantor, eh masih juga disosor. Tentu saja Halim, 36, selaku suami tak terima. Rofan disabet golok hingga kuping somplak.

Hati-hati punya bini cantik, banyak musuh dalam selimut di sekitar kita. Bisa itu tetangga sendiri, bisa pula teman sekantor. Bukankah musuh dalam selimut itu adalah kepinding atau bangsat? Iya, memang. Tapi ini kepinding berkepala hitam, bisa pakai kumis, bisa pula jenggotan. Bisa pula pakai celana panjang, bisa pula pakai sarung. Bisa sarung biasa, bisa pula pakai sarung yang terlalu tinggi, sampai susah dibedakan ini sarung atawa rok?

Dan Rofan, karyawan swasta di Indragiri Hilir ini sungguh di luar dugaan. Penampilannya kalem, ibadahnya juga rajin. Tapi rupanya iman kadang kalah juga dengan “si imin”. Buktinya, diam-diam belakangan dia tertarik berat pada Yunita istri Halim rekan sekantor. Cintanya menjadi makin membara, karena sepertinya si wanita memberi angin.

Orang punya WIL memang pintar selintutan, tak terkecuali Rofan. Di kala teman-teman sibuk di kantor, justru dia menyelinap ke rumah Yunita. Jadi di kala Halim kerja banting tulang di tempat kerja, Rofan malah “banting-bantingan” dengan Yunita di kamar. Informasi ini lama-lama nyampai juga ke telinga Halim, sehingga dia marah pada temannya yang celamitan itu.

Rupanya Rofan tak terima atas tuduhan itu, meski pun benar. Dia mencoba membantah, sebab dia yakin bahwa dengan memutarbalikkan fakta dia bisa lolos dari tuduhan.

Seminggu lalu Rofan mendatangi Halim di rumahnya, di Enok, Inhil. Merasa lebih senior sekaligus atasannya, justru dia menyemprot Halim sebagai lelaki ceroboh. Hanya berdasarkan omongan orang, tanpa bukti-bukti otentik, sudah memvonis seseorang. “Kalau saya mau, kamu bisa saya tuntut, itu namanya pencemaran nama baik. Untung saya ini gembala sapi, eh…..penyabar!” kata Rofan pating pecotot, karena sebetulnya bertentagan dengan hati nuraninya.

Tentu saja Halim jadi bingung. Ini pimpinan cap apa, yang bersalah kok malah lebih galakan ketimbang yang jadi korban. Akhirnya Halim pun jadi dendam. Beberapa hari lalu dia mencegat Rofan di jalan, tempat di mana atasannya itu lewat selepas kerja. Karena tanpa helm, ketika naik motor mudah dikenali. Maka begitu dia muncul langsung distop. Setelah berhenti, tanpa ba bi bu segera saja Halim membabat kepala Rofan. Korban berkelit, sehingga menyerempat telinga hampir putus.

Selesai membacok Rofan si Halim langsung kabur. Tapi bukan melarikan diri, melainkan melapor ke Mapolsek Enok, sekaligus menyerahkan diri. Tentu saja polisi jadi sibuk, ada yang mengurus korban pembacokan, ada yang memeriksa Halim. “Saya tak terima biniku diselingkuhi,” katanya pada petugas.

Telinga nyaris putus, kayak Mengki utusan raja Kubilaikan. (JPNN/Gunarso TS)